Puisi cak nun lautan jilbab - Video Terbaru Hari ini

Puisi cak nun lautan jilbab - Video Terbaru Hari ini

Dengan temen sendiri di mobil seru sekali mainnya. Asoy Abis

389.112 views

Punya istri orang jepang asyik main tiap hari

381.090 views

Mahasiswi kedokteran, muka nerd tp seksi banget

306.982 views

Yang lagi viral, main di kost sendiri

316.331 views

Jilban pinter sepong di mobil pacar

322.572 views

Hentai terbaru, eksekusi temen sekolah baru kenal

309.678 views

Pijat plus-plus, dateng masa ga pake celana dalam

315.098 views

Ngintip kakak sendiri maen sama pacar ampe becek

364.226 views

Seru maen HP, Ga sadar di eksekusi temen sendiri

390.082 views

Dirayu pas pijat, terapis jilbab sepong dan crot di dalem

377.203 views

Mainkan Dan Menangkan Semua Taruhan Togel bersama GOTOGEL

LOGIN

DAFTAR

Tentu saja membeludaknya orang niscaya karena formasi pementasan telah mengalami gubahan sedemikian rupa. Isikan data di bawah atau klik salah xak ikon untuk log in:. Berangkat dari Lautan Jilbab yang ditandaskan Check this out Nun dua puiisi dekade silam, perlukah gerakan sosial serupa hari ini? O, kelahiran sejati justru dari rahim kebobrokan, kebangkitan yang murni justru dari himpitan-himpitan Alamkah yang melahirkan gerakan itu atau manusia? Demikian pula mana muslimah yang paling cantik di antara kontestasi jilbab itu. Ini furqan, pembeda antara haq dan bathil Jarak antara keindahan dengan kebusukan Batas antara baik dan buruk, benar dan salah Kami menyarungkan keyakinan di kepala kami Menyarungkan pilihan, keputusan, keberanian dan istiqomah, di nurani dan jiwaraga kami … Inilah jilbab Ilahi Rabbi, jilbab yang mengajarkan ilmu menapak dalam irama Ilmu untuk tidak tergesa, ilmu tak melompati puisi cak nun lautan jilbab dan batas realitas Ilmu bernapas setarikan demi setarikan, selangkah demi selangkah, hikmah demi hikmah, rahasia demi rahasia, kemenangan demi kemenangan … Para malaikat Puisi cak nun lautan jilbab yang lembut melebihi kristal, para malaikat Allah yang suaranya tak bisa didengarkan oleh segala macam telinga, berbisik-bisik di antara mereka Wahai!


Jilbab yang semula ca agama kini bersalin rupa menjadi tren fesyen. Bagaimana mungkin muncul kebangkitan dari rantai belenggu kejahiliyahan? Yang menarik dari argumentasi penulis source itu adalah Cak Nun membuat gelombang—sehingga menimbulkan spirit bagi jamak orang—di tengah samudera ketidakadilan yang merugikan kelompok marjinal. Sekalipun dengan catatan kritis puisi cak nun lautan jilbab gerakan demikian akan menemui tembok besar berupa industri budaya jilbab yang makin fenomenal. Lautan Jilbab! Gelombang perjuangan, luka pengembaraan, tak mungkin bisa dihentikan Wahai!


Ia kemudian menulis puisi Lautan Jilbab. Tahun-tahun berikutnya ia tak sekadar dibacakan secara tunggal oleh Cak Nun, melainkan juga dipentaskan hingga pernah menarik audiens sebanyak orang. Tentu saja membeludaknya orang niscaya karena formasi pementasan telah mengalami gubahan sedemikian rupa.

Pendeknya, Cak Nun menteaterkan Lautan Jilbab. Beberapa sumber berita cetak menulis kalau pementasan Lautan Jilbab di Stadiun Wilis, Madiun, mencapai Suatu jumlah yang sedemikian fantastis untuk pertunjukan teater masa itu. Pendukung dari Surabaya kebanyakan berasal kalangan nonteatrikal. Persiapannya membutuhkan waktu dua bulan. Berapa harga sistem tiket masa itu? Untuk sementara ini, pembelian tiket dilayani dengan sistem kuitansi.

Hal itu untuk menangkal kemungkinan adanya pemalsuan karcis. Pementasan dilakukan mulai pukul Pembelaan Cak Nun terhadap wong cilik , termasuk muslimah berjilbab, yang mengalami tekanan vertikal dari pemerintah diwujudkan melalui Lautan Jilbab. Bentuk keberpihakan itu merupakan kritik sosial Cak Nun kepada pemerintah yang meneken peraturan secara serampangan.

Yang menarik dari argumentasi penulis anonim itu adalah Cak Nun membuat gelombang—sehingga menimbulkan spirit bagi jamak orang—di tengah samudera ketidakadilan yang merugikan kelompok marjinal. Tak heran bila, di samping dipentaskan, Lautan Jilbab sebagai puisi ludes di pasaran. Cetakan perdana tahun oleh Yayasan Al-Muhammady Jombang lekas habis.

Di zaman yang mustahil terleas dari cengkeraman kapitalisme, jilbab tak semata-mata bebas nilai. Ia tak lagi dianggap sebagai atribut agama, tapi juga sebuah produk industri massal.

Menubuhnya penggunaan jilbab di kalangan muslimah dewasa ini kemudian menarik pasar untuk di-industri-alisasi-kan. Industri menganggap jilbab sebagai ranah strategis sebagai lumbung penghasil kapital yang menjanjikan. Jilbab yang semula simbolisme agama kini bersalin rupa menjadi tren fesyen. Dari beragam usia, muslimah, pertama-tama, membeli jilbab karena faktor gaya. Industri kemudian membagi kelas-kelas jilbab berdasarkan kualitas.

Iklan yang dipampangkan di media massa, baik cetak maupun daring, turut serta mengatalasekan jilbab berbasiskan selera. Patokan harga pun berkisar corak menengah maupun elite. Komodifikasi jilbab demikian menginduk pada logika pasar. O, kelahiran sejati justru dari rahim kebobrokan, kebangkitan yang murni justru dari himpitan-himpitan. O, alam dalam diri manusia. Alam tak boleh benar-benar takluk oleh setajam apapun pedang peradaban manusia, alam tak diperkenankan sungguh-sungguh tunduk di bawah kelicikan tuan-tuannya.

Apakah burung-burung ababil akan menabur dari langit untuk menyerbu para gajah yang durjana? O, burung-burung ababil melesat keluar dari kesadaran pikiran anak-anak muda itu, dari dzikir jiwa dan kepalan tangan mereka. Para malaikat Allah yang jumlahnya tak terhitung, bersliweran melintas-lintas ke berjuta arah di seputar bumi. Para malaikat Allah yang amat lembut sehingga seperjuta atom tak sanggup menggambarkannya.

Para malaikat Allah yang besarnya tak terkirakan oleh matematika ilmu manusia sehingga seluruh jagad raya ini disangga di telapak tanggannya.

Para malaikat Allah tergetar, tergetar sesaat oleh raungan sukma dari bumi. Para malaikat Allah seolah tergemerang bersahut-sahutan di antara mereka.

O, hanya ketololan yang menemukan jilbab sekedar sebagai pakaian badan. Lihatlah perlahan-lahan makin banyak manusia yang memakai jilbab, lihatlah kaum lelaki memakai jilbab di akalnya, lihatlah rakyat manusia memakai jilbab di fikirannya, lihatlah ummat-ummat memakai jilbab di kebudayaannya, lihatlah siapapun saja yang memerlukan perlindungan, yang memerlukan genggaman keyakinan, yang memerlukan cahaya pedoman, lihatlah mereka semua berjilbab.

Adakah jilbab itu, semacam tindakan politik, semacam perwujudan agama atau pola perubahan kebudayaan? Para malaikat Allah yang bening bagai cermin segala cermin seolah memantulkan suara-suara. Jilbab ini lagu sikap kami, tinta keputusan kami, langkah dini perjuangan kami. Jilbab ini surat keyakinan kami, jalan panjang belajar kami, proses pencarian kami.

Jilbab ini percobaan keberanian di tengah pendidikan ketakutan yang tertata dengan rapi. Jilbab ini percikan cahaya dari tengah kegelapan, alotnya kejujuran di tengah hari-hari dusta. Jilbab ini eksperimen kelembutan untuk meladeni jam-jam brutal dari kehidupan. Langkah kami terhadang, kaki kami terperosok di pagar-pagar protokol peradaban ini. Kalau matahari terbit kami sarapan janji, kalau matahari mengufuk kami dikeloni janji.

Tidak ada perlindungan bagi hati nurani kami yang dipanggang di atas tungku api congkak kekuasaan. Tidak ada perlindungan bagi iman kami yang dicabik-cabik dengan pisau-pisau beracun. Tidak ada perlindungan bagi kuda-kuda kaki kami yang digoyahkan oleh keputusan sepihak yang dipaksakan. Tidak ada perlindungan bagi akidah kami yang ditempeli topeng-topeng, yang dirajam, dimanipulir oleh rumusan-rumusan palsu yang memabukkan.

Tidak ada perlindungan bagi padamnya matahari hak kehendak kami yang diranjau. Menyarungkan pilihan, keputusan, keberanian dan istiqomah, di nurani dan jiwaraga kami. Inilah jilbab Ilahi Rabbi, jilbab yang mengajarkan ilmu menapak dalam irama. Ilmu bernapas setarikan demi setarikan, selangkah demi selangkah, hikmah demi hikmah, rahasia demi rahasia, kemenangan demi kemenangan. Para malaikat Allah yang lembut melebihi kristal, para malaikat Allah yang suaranya tak bisa didengarkan oleh segala macam telinga, berbisik-bisik di antara mereka.

Anak-anak tiri peradaban! Anak-anak jadah kemajuan dan perkembangan! Lautan jilbab! Gelombang perjuangan, luka pengembaraan, tak mungkin bisa dihentikan. You are commenting using your WordPress. You are commenting using your Twitter account. You are commenting using your Facebook account.