Cerita sex ternoda - Video Terbaru Hari ini

Cerita sex ternoda - Video Terbaru Hari ini

Dengan temen sendiri di mobil seru sekali mainnya. Asoy Abis

389.112 views

Punya istri orang jepang asyik main tiap hari

381.090 views

Mahasiswi kedokteran, muka nerd tp seksi banget

306.982 views

Yang lagi viral, main di kost sendiri

316.331 views

Jilban pinter sepong di mobil pacar

322.572 views

Hentai terbaru, eksekusi temen sekolah baru kenal

309.678 views

Pijat plus-plus, dateng masa ga pake celana dalam

315.098 views

Ngintip kakak sendiri maen sama pacar ampe becek

364.226 views

Seru maen HP, Ga sadar di eksekusi temen sendiri

390.082 views

Dirayu pas pijat, terapis jilbab sepong dan crot di dalem

377.203 views

Mainkan Dan Menangkan Semua Taruhan Togel bersama GOTOGEL

LOGIN

DAFTAR

Tangan sang suami yang memegang perut rata sang istri tangannya merambat keatas. Mungkin besok, waktu yang sama. Aku pengen memek yang enak, jadi aku masuk ke cerita sex ternoda. Sekitar seminggu kemudian, Cerita sex ternoda visit web page tugas dari kantornya untuk ternoad keluar kota selama satu minggu. Seandainya Dina sadar kalau kata-kata Anton itu bagaikan ramalan, dia seharusnya lebih cemas lagi.


Menyukai ini: Cerit Memuat Lidya mengangguk, ia memang tengah menggigil. Keluarlah cairan kejantan seorang siswa SMA yang berserakan di kaca hitam yang menutupinya dari mengintip renda jilbab khimar suami istri tetangganya. Bahkan mungkin ia terlalu menikmati… ketidakhadiran Pak Hasan membuat Lidya bebas melakukan cerita sex ternoda saja hari ini. Atau akan seterusnya.


Aku lebih pintar dari yang kau kira, sayang. Suster tidak akan datang ke kamar ini dalam waktu seperempat jam ke depan dan sekarang bukan jam bezuk, jadi tidak akan ada orang lain di sini kecuali kita berdua, Mbak Alyaku yang cantik jelita. Kasihan sekali kan kalau sampai arah infusnya berbalik? Darahnya akan tersedot ke atas… hehehe. Kau sadar tidak, mudah sekali kalau aku ingin menyakiti orang-orang yang kamu cintai kapanpun aku mau. Kalau tidak ingin Mas Hendra kucelakai sampai mampus di tempat ini juga, sebaiknya kau segera buka resleting celanaku dan sedot kontolku sampai aku puas!

Keselamatan Mas Hendra lebih penting dari martabatnya yang sudah tak ada harganya lagi. Alya akhirnya menurut, ia jongkok ke bawah, membuka kancing lalu menarik turun kait resleting celana Pak Bejo. Setelah dibuka, Alya menarik turun celana panjang berikut celana dalam yang dikenakan oleh pria tua itu sampai ke betis.

Kemaluan Pak Bejo yang besar dan panjang meloncat keluar dari celana dalam yang ia kenakan dan menampar pipi mulus Alya. Ingin sekali rasanya Alya menendang kantung kemaluan Pak Bejo dan melarikan diri dari ruangan ini, tapi melihat Hendra yang lelap tak berdaya Alya tahu ia harus tunduk dan menuruti semua kemauan Pak Bejo. Wajah takluk Alya membuat Pak Bejo tersenyum puas. Dengan jari-jari nakalnya, pria tua itu memainkan rambut indah Alya lalu dengan kasar dia mendorong wajah Alya mendekati kemaluannya.

Alya tahu, dia harus segera melayani kemauan Pak Bejo saat ini juga atau pria tua yang jahat itu akan menghajarnya seperti beberapa waktu yang lalu. Pak Bejo memang tidak berperasaan, dia menyuruh Alya mengoral kemaluannya tepat di hadapan sang suami yang masih lelap, belum lagi kalau ada suster yang datang.

Benar-benar nekat orang tua tak tahu malu ini. Mereka berada cukup dekat dengan ranjang penunggu pasien tempat Alya biasa tidur menemani Hendra.

Mumpung sepi, cepat sedot. Alya melirik ke arah Hendra yang masih terlelap, lalu menatap sengit mata Pak Bejo. Alya mencondongkan badan ke depan dan membuka mulutnya perlahan. Si cantik itu menelan batang kemaluan Pak Bejo dan memainkan lidah di sekitar ujung gundulnya.

Alya memegang kontol Pak Bejo dengan lembut dan mengocoknya perlahan. Si cantik itu mendorong Pak Bejo agar tidur terlentang di ranjang penunggu pasien dan ia mulai menjilati seluruh batang kemaluan lelaki tua itu, mulai dari kantungnya, lalu batang, sampai ke atas. Jilatan lidah Alya membuat Pak Bejo terangsang dan belingsatan, enak sekali rasanya.

Nafas Pak Bejo kian berat, ia sangat menyukai perasaan berkuasa seperti ini. Ia merasa seperti seorang raja yang sedang dilayani oleh selirnya. Saat ini pria tua itu tahu apapun yang ia perintahkan pasti akan dilaksanakan ibu muda yang seksi itu. Membayangkan wanita secantik Alya melakukan hal-hal yang memalukan membuat Pak Bejo terangsang. Kontolnya langsung ngaceng, bahkan akan meledak mengeluarkan air mani seandainya tidak ditahan-tahannya. Lama kelamaan, seluruh batang pelir Pak Bejo sudah tertelan oleh Alya, kepalanya naik turun bersama gerakan mulutnya mengocok kemaluan sang lelaki tua dari ujung gundul sampai kantung kemaluan.

Pak Bejo memiringkan kepala Alya dan menyibakkan rambut yang menutup wajah cantiknya. Ia ingin melihat langsung kontolnya keluar masuk bibir mungil wanita secantik Alya, pemandangan indah itu membuatnya semakin terangsang. Benar saja, hanya beberapa detik melihat Alya mengoral kemaluannya, Pak Bejo sudah siap mencapai klimaks. Pria tua itu mengencangkan cengkramannya pada rambut Alya dan menggerakkan kepala wanita jelita itu seraya memompakan penisnya ke dalam mulut Alya.

Si cantik itu memberontak sesaat, tapi tatapan galak Pak Bejo meluruhkan niatnya, nyali Alya menciut dan Pak Bejo pun membentaknya galak. Kenapa berhenti? Si cantik itu melumat kontol Pak Bejo seiring gerakan sang pria tua menggiling kemaluannya memasuki tenggorokan Alya dengan gerakan yang sangat cepat sampai-sampai si cantik itu tak sempat menarik nafas.

Lama kelamaan sodokannya makin cepat dan pendek sementara nafas Pak Bejo terdengar mendengus-dengus. Alya yakin pria tua itu pasti akan segera mencapai puncak kenikmatan. Pria itu masih terus menyodokkan kemaluannya ke mulut Alya. Begitu jari-jari lembut Alya menyentuh kantung kemaluannya, Pak Bejo tidak kuat lagi, ia langsung mencapai klimaks dengan cepat.

Diiringi lenguhan panjang, Pak Bejo menyemprotkan cairan cintanya. Pria tua itu memaksa Alya menerima semua semprotan pejuh dengan mulutnya, tangan Pak Bejo bahkan memegang kepala Alya erat-erat agar si cantik itu menelan semua semprotan air maninya tanpa ada yang tersisa. Merasakan penisnya dikulum dan pejuhnya ditelan mentah-mentah oleh Alya membuat Pak Bejo sangat puas.

Setelah penis Pak Bejo menembakkan peluru pejuhnya yang terakhir, pria tua itu meringis dan menarik penisnya dari kuluman Alya. Beberapa tetes air mani kental ikut terbawa saat ia menarik kemaluannya.

Dengan hati-hati Alya menjilat dan menelan setiap tetes pejuh yang membasahi kemaluan Pak Bejo. Bibir si cantik itu belepotan air mani sang pria tua, Alya memang sengaja tidak menelan seluruh cairan yang keluar dari kemaluan Pak Bejo karena jijik, pejuh putih kental menetes dari sela-sela mulutnya dan jatuh di atas lantai.

Pak Bejo menepuk-nepuk kepala Alya dan mengenakan kembali celananya dengan penuh kepuasan. Beberapa orang suster yang sedang duduk beristirahat di ruang administrasi menatap heran langkah jumawa dan senyum sumringah Pak Bejo meninggalkan bangsal, baru kali ini ada orang yang tertawa terbahak-bahak usai mengunjungi pasien yang sakit parah, keterlaluan sekali orang ini.

Sepeninggal Pak Bejo, Alya membersihkan lantai yang basah oleh air mani dengan tissue dan mencuci mulutnya di kamar mandi. Tanpa sepengetahuan Alya yang telah masuk ke kamar mandi, setetes air mata mengalir di pipi Hendra. Andi memasuk-masukkan tasnya ke dalam mobil, bersiap hendak berangkat. Matahari pagi terasa jauh lebih panas dari biasanya, walaupun enggan meninggalkan istrinya yang jelita sendirian di rumah lagi, Andi tetap harus berangkat.

Pak Hasan dengan mahir menggunakan lidahnya menjilati klitoris Lidya, lalu pada bibir vagina dan akhirnya lidah Pak Hasan menjelajah ke dalam liang cinta Lidya. Ia menjilat dengan gerakan memutar dan menusuk, membuat Lidya menggelinjang keenakan. Pak Hasan bahkan menggunakan giginya untuk menggigit-gigit kecil klitoris Lidya. Istri Andi itu masih terus berteriak dan melawan, bergerak mengelilingi tempat tidur dengan sekuat tenaga.

Tapi Lidya sudah tidak tahu lagi, apakah teriakannya itu teriakan takut atau teriakan penuh nikmat. Tiba-tiba saja Lidya mengalami orgasme. Kenikmatan menguasai tubuh indahnya, Lidya bergetar hebat saat mencapai puncak. Sebuah kenikmatan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.

Tubuh Lidya tergolek lemas. Tapi bahkan saat orgasme itu sudah menghilang, Pak Hasan belum selesai menikmati tubuh molek Lidya. Pak Hasan membalikkan badan dan sambil menarik pinggul Lidya, dilesakkannya kontolnya yang besar ke dalam nonok sang menantu. Lidya merem melek karena tidak bisa menahan kenikmatan yang diberikan oleh mertuanya. Seluruh memeknya seakan terulur sampai batas dan terisi penuh oleh kontolnya.

Lidya bisa merasakan denyutan demi denyutan kontol sang mertua di dalam liang cintanya. Vaginanya terus memeras penis sang mertua yang keluar masuk dengan cepat.

Tiap kali digerakkan, seakan tusukan Pak Hasan makin ke dalam, membuat Lidya mendesah-desah karena tak tahan. Desahan si cantik itu membuat Pak Hasan makin cepat memompa vagina Lidya. Akhirnya Lidya mencapai puncaknya lagi, tubuhnya yang sempurna melejit karena mengeluarkan cairan cinta.

Lidya bisa merasakan air mani Pak Hasan juga tumpah di dalam rahimnya. Pak Hasan jatuh menimpa Lidya, tubuh mereka menggigil dan bermandikan keringat. Akhirnya dia berdiri dan keluar dengan santai dari kamar Lidya, meninggalkan istri Andi itu terlentang telanjang di kasur. Saat Pak Hasan akhirnya tertidur, Lidya memutuskan untuk mandi keramas dan mengganti seprei yang baru saja dipakainya untuk melayani nafsu ayah mertuanya. Dia mencoba melupakan apa yang terjadi tapi getaran yang terasa di tubuhnya tak kunjung menghilang.

Lidya tahu dia tidak mungkin mengatakan sejujurnya apa yang terjadi pada Andi ataupun pada pihak yang berwajib. Lidya tak punya bukti apapun dan dia takut kalau Andi bertanya padanya apakah Lidya menikmati bersetubuh dengan ayah mertuanya.

Andi selalu tahu saat Lidya berbohong jadi dia pasti tahu kalau Lidya mendapatkan sensasi kenikmatan lain saat bersetubuh dengan Pak Hasan. Lidya tidak akan menceritakan apapun pada suaminya. Saat membersihkan kamar keesokan paginya, Lidya menemukan sepucuk kertas di atas meja riasnya. Surat dari Pak Hasan. Kalau aku sudah tidak kecapekan tentunya.

Membayangkannya saja sudah membuatku nafsu. Aku berjanji akan lebih perkasa. Walaupun Lidya berharap Pak Hasan hanya mengancam, tapi dia tahu mertuanya itu bersungguh-sungguh. Istri Andi itu gemetar ketakutan. Dia membayangkan ayah mertuanya akan menyetubuhinya lagi setiap ada kesempatan dan tidak ada satupun yang bisa dilakukan si cantik itu untuk menghentikannya.

Dina memasukkan kunci dan membuka pintu kamar hotel nomor Sesuai dengan petunjuk yang ia peroleh dari Pak Pramono. Lampu kamar langsung menyala saat ia masuk. Dina lalu menaruh jaket dan tas jinjing yang ia bawa di dalam lemari pakaian. Memperhatikan ruangan kamar hotel, Dina tahu dia datang lebih awal daripada Pak Pramono. Dina melangkah ke arah jendela dan memperhatikan mobil-mobil yang berlalu-lalang di jalan dengan perasaan yang campur aduk.

Dina kaget dan hampir melompat saat suara berat di belakangnya terdengar. Dina tidak perlu membalikkan badan untuk tahu siapa yang datang. Jalan hidup kita selalu tergantung pada pilihan.

Dia meredupkan cahaya lampu supaya lebih temaram dan romantis. Dina melirik ke arah jari jemarinya. Cincin emas putih yang melingkar di jari manis sebagai lambang pernikahannya dengan Anton membuatnya bergetar ketakutan. Demi cinta dan kesetiaan. Dina membalikkan badan. Tangannya memeluk pinggang seakan hendak menghangatkan badan yang kedinginan. Ingat itu baik-baik. Sekitar satu meter jarak mereka, Pak Pram berhenti. Dina berusaha menantang pandangan tajam Pak Pramono, namun dia tidak sanggup.

Pandangan mata Dina turun ke lantai. Aku malah lebih suka kamu benci daripada kamu cintai. Cantik sekali. Dina menarik wajahnya dan mundur ke belakang. Tapi Pak Pramono segera menahan Dina dengan menarik kembali bagian belakang leher Dina, mendekatkan tubuh moleknya ke depan.

Begitu tenang, sopan, penuh percaya diri. Tapi aku bisa melihat watak aslimu. Kamu ingin aku menusukkan batang penisku dalam-dalam di liang cintamu yang sempit itu. Kamu ingin menelan kontolku yang besar dan panjang lalu menelan semua pejuhku. Iya kan, sayang? Tapi saat ini, aku yang pegang kendali.

Saat ini, tubuhmu yang indah itu adalah milikku! Pertimbangkanlah perasaan Mas Anton! Apa menurutmu dia memikirkanku saat dia mencuri uang perusahaan? Jadi beritahu aku, Mbak Dina tersayang, apa menurutmu aku harus menghentikan tindakanku ini? Tidak akan! Dia sudah mencuri dariku, jadi aku akan mengambil miliknya yang paling berharga!

Istrinya yang cantik jelita! Menurutmu apa yang akan terjadi jika dia mengetahui istrinya sudah melayani bosnya bermain cinta? Mbak Dina harus menuruti semua perintahku kalau ingin semua ini berakhir dengan baik bagi semua pihak. Anton tidak akan dipecat dan tidak akan masuk penjara.

Aku dapat hiburan gratis dari seorang wanita yang cantik jelita dan molek, sedangkan Mbak Dina sendiri siapa tahu akan mendapatkan seorang keturunan yang berasal dari spermaku. Aku menginginkan tubuh Mbak Dina. Tiap kali aku butuh, aku telpon atau sms, Mbak Dina melakukan apa yang aku minta, dan Anton tidak perlu tahu apa yang kita lakukan. Aku ingin kau menerima apa saja yang ingin aku lakukan pada tubuhmu yang lezat itu selama aku belum bosan.

Setelah merasa bosan, aku akan melepaskanmu dan Anton. Pak Pramono tersenyum sinis dan mengingatkan Dina. Lalu apa yang kita lakukan kemarin? Wah-wah, anda benar-benar seorang istri yang sempurna. Cantik, setia dan baik hati pula. Perlahan Dina bergerak mendekati Pak Pramono. Airmata mulai deras menuruni pipi ibu muda yang cantik itu.

Dengan mata berkaca-kaca Dina menatap Pak Pramono. Sambil meletakkan tangan di pundak Pak Pram, Dina membungkuk sekali lagi dan menangkup bibir hitam Pak Pram dengan bibirnya yang merah mungil. Dina bisa merasakan bibir Pak Pramono membuka dan lidahnya menjelajah ke dalam mulut Dina. Tangan Pak Pram memeluk pinggang langsingnya dan menarik tubuh Dina agar lebih mendekat.

Lidah mereka beradu dan Dina memejamkan mata. Aku ingin melihatmu bugil. Dina memang sudah pernah telanjang di hadapan pria ini, satu-satunya lelaki yang pernah menidurinya selain suaminya sendiri. Tidak ada jalan keluar kecuali menuruti semua permintaannya.

Tangan Dina segera membuka kancing bajunya. Satu persatu pakaian Dina melorot ke lantai. Baju, rok, sepatu dan rok dalam sudah dilepas oleh Dina. Kini di hadapan Pak Pramono berdiri seorang ibu rumahtangga yang amat molek yang hanya mengenakan celana dalam dan BH.

Dina mendesah pasrah dan mulai melepas BHnya. Perlahan-lahan Dina meloloskan BH melalui kedua lengannya dan melemparkannya ke dekat pakaian di lantai. Dina membungkuk dan melepas celana dalamnya. Dina melempar celdamnya ke tangan Pak Pramono. Pria tua itu segera mencium dan menghirup bau memek Dina yang masih tertinggal di celana dalamnya.

Tanpa banyak bicara Pak Pram kembali menganggukkan kepala ke arah Dina. Dia masih duduk di pinggir ranjang. Dina berjalan perlahan ke arah Pak Pramono dan duduk berlutut di hadapannya. Dina tidak pernah menikmati oral seks. Anton sering menyuruhnya tapi Dina selalu menolak dengan berbagai alasan. Dina tidak pernah mau menelan sperma suaminya. Aku kok ingin lihat kontolku diciumi oleh bibir semerah bibir anda. Dina membuka celana Pak Pram dan menarik semua ke bawah berikut celana dalamnya.

Kontol Pak Pram langsung terbebas dan berdiri tegak di depan wajah Dina. Walaupun sudah pernah melihatnya, Dina selalu terkejut melihat kontol Pak Pram. Penis ini memang Pak pram begitu panjang, besar dan bertonjolan urat halus. Sesudah melakukannya denganku, Mbak Dina tidak akan ragu lagi untuk melakukan oral seks. Dina terus memperhatikan penis Pak Pram.

Dia hanya pernah memasukkan satu penis ke dalam mulutnya dan itu adalah milik suaminya sendiri. Tapi hari ini, sambil berlutut di hadapan penis Pak Pramono, istri yang tadinya setia itu harus melayani nafsu hewani sang pria tua.

Dina mengeluarkan lidah dan menjilat ujung gundul kontol Pak Pram, merasakan lendir yang keluar dari rekahan dengan lidahnya. Perlahan-lahan, ditelannya seluruh kontol Pak Pram. Tangannya meraih rambut Dina dan menguntainya lembut. Dia mendorong penisnya lebih jauh ke dalam mulut Dina.

Dina menutup mata dan mencoba menahan diri agar tidak tersedak oleh desakan kontol Pak Pram yang terus didorong masuk ke tenggorokan. Dina berusaha keras agar bisa bernafas saat Pak Pram mulai mendorong pinggulnya. Kini kontol Pak Pram terbenam dalam di mulut Dina. Tangan Pak Pram memegang kepala Dina dan membimbingnya agar bisa mengocok penis Pak Pram dengan mulut.

Tiap kali menarik kepala Dina, hidung si cantik itu terbenam sampai ke dalam keriting jembut Pak Pram. Enak banget disepong istri orang! Dina meletakkan tangannya di paha Pak Pram agar bisa meraih keseimbangan. Jari jemari Dina bisa merasakan sentuhan bulu-bulu kaki Pak Pram yang keriting. Dina menggunakan lidahnya untuk memijat seluruh batang penis Pak Pram. Suara berkecap mulut Dina memenuhi ruangan yang sepi. Dina memejamkan mata, dia tidak ingin melihat dirinya sendiri menelan kontol Pak Pram.

Dina berusaha menarik mulutnya, tapi Pak Pram menjambak rambut Dina dan memaksanya terus menelan kontolnya yang besar. Dina menggelengkan kepala dan berusaha melepaskan diri dari tangan Pak Pram. Dina tidak mau Pak Pram orgasme di dalam mulutnya. Dina bisa mendengar suara tawa pria tua itu ketika akhirnya pejuh Pak Pram meledak di dalam mulutnya.

Pak Pram membanjiri tenggorokan istri Anton dengan spermanya. Dina tidak bisa menahan lagi dan dengan satu tegukan, dia menelan semua muntahan sperma Pak Pramono. Dina menundukkan kepala, dia tidak bisa menghentikan air mata yang terus jatuh menuruni pipinya yang putih mulus.

Bibirnya memar dan mulutnya terasa sakit usai mengoral penis Pak Pramono. Tenggorokan Dina juga terasa lecet karena dipaksa menelan kontol besar sampai ke ujung. Dina menunggu sampai Pak Pramono menyuruhnya mengenakan baju. Dia ingin segera pergi meninggalkan kamar ini. Pulang ke rumah, mandi besar lalu tidur. Dina ingin segera meninggalkan semua mimpi buruk ini. Seharusnya bangga bukannya malah menangis. Belum pernah aku orgasme secepat itu. Beli yang baru. Dina tidak ingin berdebat dengannya.

Setelah usai mengenakan pakaian, Dina langsung bergegas berdiri dan mengambil tas serta jaketnya di lemari. Dina sudah membuka pintu saat Pak Pramono memanggilnya. Dina tidak mengatakan apa-apa dan melangkah pergi meninggalkan Pak Pramono.

Dia amat bersyukur Pak Pram tidak menidurinya hari ini. Misal: Kasus Dina paling masuk akal karena dia melayani boss2 suaminya demi keluarganya juga…. Kasus Alya… hmmm ini agak kurang masuk akal karena pak bejo itu hanyalah tetangga yang kebetulan preman yang cuman bisa main gertak.. Sedangkan pak bejo? Kasus Lidya makin tidak masuk akal.

Karena dengan tololnya Andi membiarkan Istrinya hanya berdua di rumah dengan seorang lelaki, walaupun itu ayahnya sendiri. Jadi seharusnya Andi mencarikan alternatif untuk pak hasan. Okelah kasus perkosaan kali pertama lidya itu tidak bisa ditolak. Tapi kenapa juga dia tetap tinggal dirumah itu. Kan bisa saja dia pindah kerumah Kakaknya?

Terlalu banyak kebetulan dalam kasus lidya. Btw kemana aja nih boss? Gw masih beredar kok bro, selalu setia membaca cerita2 terbaru di KisahBB, cuma jarang nongol aja di milis. Gw baru marathon nih, ngos-ngosan bikin RYT selanjutnya.

Soal kritik di atas. Kasus Dina keknya gak ada masalah ya. Kasus Alya, kalau dia lapor polisi ato lapor suaminya trus kasusnya beres, gak ada RYT dong bos, Hahaha… alasannya jelek banget yah… Kasus Lidya. Tapi itu kan mertuanya sendiri? Bukannya banyak yang kek gitu? Tinggal berdua ma mertua? Bro keknya juga belum baca kasus Anissa, lebih banyak kebetulan lagi tuh.

Akhir kata, mungkin RYT memang gak sesempurna yang diinginkan sebagian pembaca, tapi mudah-mudahan bisa memuaskan. Hahaha, just kidding. Kunjungi lapak Shusaku di tempat baru di sini. Comments RSS. You are commenting using your WordPress. You are commenting using your Twitter account. You are commenting using your Facebook account. Beri tahu saya komentar baru melalui email. Beritahu saya pos-pos baru lewat surat elektronik. Feeds: Pos Komentar.

Ranjang yang Ternoda 3 ». Ranjang yang Ternoda 2 8 Juli oleh shusaku. Capek yah, Pak? Lima jam perjalanan. Saat itu telepon berbunyi. Pak Hasan mengangkatnya. Nanti Bapak sampaikan.

Pak Bejo kembali duduk di hadapan Alya. Setelah beberapa saat menjilati, Pak Bejo bangkit. Saat itulah dia sadar. Aku pengen memekmu basah, masturbasi dulu! Pak Pramono mencabut jari jemarinya dan berkata. Lepaskan aku! Apa yang bapak lakukan di sini? Aku ini menantumu!! Tapi menurutmu, bagaimana perasaan Andi? Orang tua berhati busuk! Apa yang anda maksud? Airmatanya mengalir. Kamu bisa lebih baik dari itu.

Beberapa saat kemudian ciuman itu berakhir. Dina merasa mulutnya sudah sangat kotor. Hanya untuk Mas Anton. Tapi aku tidak suka melakukannya. Tanpa aba — aba dan tanpa persiapan apapun, Pak Hasan tiba — tiba saja beringsut ke belakang Eko dan melesakkan penisnya ke dalam vagina Lidya dalam — dalam. Lidya yang kaget tentu saja langsung meronta — ronta sebisa mungkin. Aku belum siap!!! Lidya menjerit — jerit sekuat tenaga, dia tidak peduli lagi jika ada orang yang akan datang. Dia justru sedang membutuhkan pertolongan!

Lidya memejamkan matanya, rasa sakit di selangkangannya begitu ngilu, kasar sekali Pak Hasan menyetubuhinya. Gerakan maju mundurnya bukan gerakan yang lembut, tapi menyentak — nyentak dengan sangat cepat.

Kaki Lidya dinaikkan ke pundak pak Hasan untuk mempermudah pria tua itu menghentakkan kemaluannya dalam — dalam dengan sekuat tenaga. Setiap sodokan membuat Lidya menggigil dan melenguh sakit. Keringat deras membasahi tubuh ketiga anak manusia yang kini tengah bergulingan di pos ronda itu.

Eko terus saja memangsa dan mengocok penisnya di antara buah dada Lidya. Rasa yang ditimbulkan antara gesekan penis bertonjolan dengan buah dada putih mulus membuat Eko dan Lidya sama — sama melayang. Setiap kali penis Pak Hasan menyentak masuk dan bertumbukan dengan dinding terdalamnya, saat itu pula ujung gundul penis Eko menyentuh dagu Lidya. Edi dan Ecep yang memegang tangan Lidya mengutuk ketidakmampuan mereka mengalahkan Eko dalam bermain domino, lihat betapa binalnya wanita kota ini.

Ayo semprotkan di dalam! Hamili dia!!! Hamili menantumu sendiri!! Lidya menggeleng ketakutan, tidak! Itu yang dia tidak inginkan! Jangan di dalam, keluarin di luar saja… aku tidak mau, Pak!

Aku mohon!!! Aku mohon, Pak!! Ba — ba — Bapak atau Kakek? Kamu suka kan? Aku yakin anak kita akan jadi anak yang berbakti pada orangtua dan kakeknya.

Kenapa seandainya ada orang mendengar mereka membiarkan saja dia digumuli empat orang ini? Lidya meronta — ronta tanpa daya karena eratnya jepitan Eko pada perut dan payudaranya. Sesungguhnya orang — orang desa sudah terbiasa mendengar teriakan wanita di tengah malam datang dari pos siskamling. Itu karena Edi, Eko dan Ecep sudah terbiasa menyewa lonthe untuk mereka nikmati di sana.

Jadi mereka tidak heran kalau malam itu ada teriakan dari pos kamling. Penis Eko muncrat — muncrat tanpa halangan, membasahi bagian atas dada Lidya dan dagunya. Si cantik itu berusaha menahan mulutnya terkatup agar ia tidak sampai menelan sperma Eko. Tapi agak susah membersihkan bibirnya yang sudah belepotan sperma seperti ini.

Belum selesai Lidya membersihkan bibir dan mendorong tubuh Eko menjauh, sentakan keras menghantam dinding terdalam liang cintanya. Tapi ia tidak bisa melawan Pak Hasan lagipula tidak ada gunanya, Pak Hasan tidak akan peduli. Pria tua itu menyemprotkan cairan cintanya begitu mencapai puncak kepuasan.

Sempit banget memekmu, Nduk! Rupanya Pak Hasan telah mencapai puncak! Bagaikan mulut yang kehausan, vagina Lidya menyedot semua sperma yang disemprotkan oleh Pak Hasan. Lidya menggelengkan kepala lemas karena tak percaya, tidak hanya baru saja disetubuhi ayah mertuanya di depan tiga kawanan berandal desa yang seharusnya bertugas menjadi penjaga kampung, tapi bajingan tua itu juga berniat menghamilinya.

Membayangkan dirinya dihamiliki ayah mertuanya sendiri di hadapan banyak saksi membuat Lidya ingin muntah. Pak Hasan menarik penisnya dari dalam memek Lidya sambil meninggalkan bunyi lepasan yang nyaring.

Tubuh Pak Hasan ambruk karena lemas, menimpa tubuh Lidya yang masih terlentang. Dengan susah payah si cantik itu mencoba menyingkirkan tubuh Pak Hasan agar dia bisa berdiri tegak dan menutup ketelanjangannya. Ia membenahi tali behanya, lalu mengenakan roknya kembali. Vaginanya yang sedari tadi terus menerus diserang masih terasa perih, tapi Lidya sudah tidak tahan ingin meninggalkan tempat terkutuk ini. Dia bahkan tidak mampu berdiri, berjalanpun sempoyongan.

Malu sekali rasanya Lidya. Malu sekali. Wajahnya memerah tak tertahan. Walaupun semburat merah itu menambah manis wajahnya yang cantik, tapi tidak ingin dia mempersembahkan keindahan apapun kepada orang — orang ini. Tubuhnya seharusnya hanya menjadi milik Mas Andi, suaminya! Ingin rasanya Lidya cepat — cepat lari dan pergi dari tempat ini.

Bukankah seorang menantu itu seharusnya dianggap sebagai anak sendiri? Bukan budak seks yang setiap saat disetubuhi? Untunglah malam kali ini begitu gelap sehingga baik Pak Hasan, Edi, Eko maupun Ecep tidak melihat merah wajah Lidya yang malu sekaligus marah. Setelah akhirnya nafasnya kembali normal dan rasa nyeri di selangkangan dan dadanya mulai menghilang, dengan buru — buru Lidya pergi meninggalkan pos ronda dan lari pulang ke rumah, meninggalkan Pak Hasan yang berjalan mengikutinya dengan santai sambil mengepulkan asap rokok.

Untuk pertama kali dan terakhir, ketiga orang yang duduk bersama dan meronda malam itu menyunggingkan senyum penuh kepuasan. Mereka tidak akan pernah melupakan saat — saat terindah dalam hidup mereka ini.

Saat — saat rahasia yang hanya mereka bertiga, Pak Hasan dan Lidya yang tahu. Semuanya akan baik — baik saja, jika mereka diam. Ketiga orang itu berbaring di pos ronda dan memejamkan mata mereka, berharap kejadian yang baru saja mereka alami akan berulang di kemudian hari. Oh, betapa inginnya mereka memiliki Lidya yang mempesona.

Sungguh beruntung Pak Hasan, memilik menantu jelita seperti Lidya. Dimulai dari menikmati indahnya pagi dengan sarapan gurameh bakar kiriman Mbak Mirah, lalu mengagumi angin yang bersemilir sambil makan rujak buah — buahan buatan sendiri di siang hari dan akhirnya mengobrol dan bercanda dengan Mbak Mirah dan saudara — saudaranya di sore hari.

Anak Mbak Mirah yang masih balita lucu sekali. Bersama dengan orang — orang ini, Lidya ingin melupakan kejadian sial yang terjadi kepadanya. Suasana Desa Kapukrandu yang tenang, asri dan bersahabat membuat Lidya sedikit demi sedikit merasa tenang dan nyaman, begitu nyamannya sehingga seandainya diminta, Lidya akan betah tinggal di sana.

Bahkan jika dia harus tinggal di rumah pinjaman bersama dengan mertuanya yang bejat dan hanya memikirkan seks. Itu pagi sampai sorenya.

Tapi malamnya? Malam ini sepertinya Lidya harus menepati janji pada Pak Hasan, janji apa? Janji melayani sang mertua di tempat tidur. Lihat saja pandangan buas Pak Hasan di meja makan hari ini, seperti hendak menelannya hidup — hidup. Setelah kemarin malam diancam akan dibuka rahasianya pada Andi, bisakah wanita cantik itu menolak? Ia segera meralat kata — katanya. Aku tidak mau Mas Andi malu. Lagipula tadi malam Bapak sudah… sudah dapat. Kenapa harus malu? Setelah apa yang kita lakukan di bus, di pasar atau di mal?

Atau saat main kartu kemarin? Apanya yang bikin malu? Malam ini kamu tidur di kamarku. Tiba — tiba saja nasi sayur yang ia makan terasa hambar. Ia tahu tidak ada gunanya menolak. Dengan gerakan kepala pelan, si jelita itu mengangguk. Aku tidak mau Andi melihat istrinya kurus sepulang dari desa. Untuk nanti malam, pakai kaos tipis dan rok mini yang sekarang kamu pakai itu dan jangan memakai beha saat kamu masuk kamarku nanti. Si jelita itu kembali mengangguk.

Malam datang sangat cepat hari itu, detik demi detik yang biasa datang lambat justru berpacu dengan hening malam. Lidya sempat beristirahat sebentar usai mencuci piring, ia tahu ia harus masuk ke kamar sang mertua dan melayaninya bermain cinta.

Bukan hal yang paling menyenangkan hari ini, tapi ia tahu dirinya tidak bisa mengelak. Cepat atau lambat, Pak Hasan pasti akan menikmati ranum tubuhnya. Dengan langkah malas Lidya bangun dari pembaringan tempatnya bermalas — malasan sepanjang hari dan berjalan menuju kamar Pak Hasan.

Walaupun kamar mereka hanya dibatasi oleh ruang keluarga, namun Lidya merasa dirinya bagaikan seorang narapidana yang berjalan melalui lorong penjara menuju hukuman mati.

Ketika mendengar langkah kaki Lidya, Pak Hasan bergegas untuk membukakan pintu. Pria tua itu hanya mengenakan kaos oblong putih tipis dan sarung yang melilit. Dengan gerak langkah ringan, Lidya duduk di pembaringan.

Tanpa bicara, tanpa kata. Lidya hanya diam dan menunggu. Pak Hasan duduk di samping menantunya, lalu dengan lembut ia mencium bibir mungil Lidya. Sapuan lembut bibir sang mertua membuat gairah Lidya perlahan — lahan naik. Ini dia, seorang pria yang bukan suaminya mencium bibirnya dengan bebas. Tapi anehnya, hampir — hampir Lidya berharap Andi bisa menciumnya seperti yang dilakukan oleh Pak Hasan, begitu dominan, kuat dan jantan. Si cantik itu tentu saja tidak mau menikmati permainan kasar Pak Hasan dengan membayangkan suaminya.

Ia tidak ingin menikmati ini, tapi… ketika bibir dengan bau tak sedap itu menyapu bibirnya dan menjelajah semua sisi rongga mulut dan bibir penuhnya, pagutan bibir mertuanya membuat Lidya menyeberang kenikmatan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan. Tubuh gemuk Pak Hasan bertengger di atas tubuh Lidya yang ramping. Celananya sudah turun hingga lutut dan lidahnya yang cabul menjelajah mulut menantunya yang cantik sementara tangan nakalnya menjelajah seluruh lekuk tubuh Lidya. Tangan itu meremas — remas buah dada sang menantu yang kenyal dan sempurna yang masih ada di balik pakaian tipis.

Bibirnya yang tebal terus saja menjajah bibir mungil Lidya, lidahnya menggeliat, memaksa sang menantu membuka mulut sedikit dan meneteskan air liur diantara bibir merah yang ranum. Lidya memandang ke arah sang pencium dengan mata berkaca — kaca dan bibir yang menebal bahkan hampir luka karena ciuman kasar pria tua bejat yang kini sedang menciuminya penuh nafsu.

Lidya berupaya mengangkat kepalanya, tapi bibir sang mertua yang bau itu mengejar bibirnya lagi, sekali lagi kepala Lidya terjerembab ke bawah. Bagaimana mungkin dia bisa menikmati ciuman buas seperti ini? Walaupun dalam hati menolak, tak urung Lidya merem melek juga dengan rangsangan hebat yang kini menderanya. Pak Hasan terus saja menumbuk bibir manis Lidya dengan bibirnya yang kasar dan mulutnya yang bau, belum lagi dengan air liur yang terus menetes dari mulut sang mertua membuat bibir Lidya benar — benar serasa dijajah.

Lidya mengutuk dirinya sendiri yang tak bisa mengatur kuasa tubuhnya. Bukannya merasa jijik, Lidya malah semakin menikmati ciuman menuju puncak orgasme. Orgasme, hanya dengan berciuman dengan Pak Hasan.

Lidya malu sekali. Penis Pak Hasan keras seperti kayu, menyembul dari sarungnya. Lidya bisa merasakan hawa nafsu yang menghangat keluar tiap kali tubuhnya bergesekan dengan kemaluan sang mertua. Bahkan ketika penis yang masih ada di balik sarung itu disandarkan dengan santai di perutnya yang rata. Lidya masih merem melek menerima serangan ciuman bertubi. Si cantik itu hampir tidak bisa bergerak dan berkonsentrasi untuk melakukan apapun karena intensitas serangan terus — menerus meningkat.

Tangan kasar sang mertua bergerak lincah dengan cepat, menyadari menantunya yang jelita kini ada dalam kuasanya, tangannya segera melucuti celana dalam pink mungil milik Lidya. Si cantik bahkan tak sadar bahwa bagian bawah tubuhnya kini telah telanjang. Ia berdiri dan melepas sarungnya yang kumal. Lidya tak menjawab, tapi matanya gelisah penuh penantian.

Antara ingin dan jijik. Bola matanya yang indah memandang tubuh mertua yang tidak ada bagusnya, perut gembul berbulu dengan kemaluan yang keras menggantung di bawah, air cinta pelumas membasahi ujung gundul penis dan perlahan menetes membasahi roknya yang berantakan. Setelah mencopot pakaiannya sendiri, Pak Hasan menarik lepas celana dalam sang menantu yang tadi masih tergantung di kaki.

Ketika sedang melamun, Lidya dikagetkan oleh Pak Hasan yang tiba — tiba memegang paha mulusnya. Tapi apa mau dikata, nafsunya sudah terlanjur naik, lagipula tidak ada gunanya lagi melawan seorang pria bertubuh gemuk yang kini berada di atas tubuhnya yang telanjang. Lidya mengangguk pasrah tanpa suara. Dengan kasar Pak Hasan merenggangkan kaki Lidya, lalu menarik pinggulnya dan mendekatkan tubuh si cantik itu kepadanya.

Tak perlu waktu lama bagi Pak Hasan untuk melesakkan penisnya masuk ke dalam vagina si jelita yang telah basah. Ini dia…. Sambil duduk bersimpuh dan memegang pinggang ramping Lidya, Pak Hasan memutar — mutar kemaluannya dan mengaduk isi liang cinta sang menantu. Bagian atas tubuh Lidya masih beralaskan kasur, namun pantatnya kini terangkat ke atas. Pak Hasan mulai menumbuk dengan kecepatan teratur, melesakkan barangnya yang hitam ke dalam liang cinta yang seharusnya hanya boleh dimasuki penis anak kandungnya.

Lidya tak tahan lagi, rasa nikmat bercampur sakit membuatnya tak kuat, ia menggunakan punggung tangan untuk menghapus air mata yang kadang leleh keluar tanpa ia inginkan. Dengan satu gerakan cepat Pak Hasan menggerakkan seluruh tubuhnya ke depan, hampir — hampir meremukkan tubuh mungil menantunya yang jelita dan melesakkan dalam — dalam kemaluannya hingga berbenturan dengan dinding dalam vagina Lidya.

Namun Pak Hasan tidak berhenti begitu saja. Sekali lagi dengan satu gerakan cepat, Pak Hasan menggulingkan tubuhnya dan merubah posisi mereka, kini justru Lidya yang berada di atas, duduk dan menunggangi kontol mertuanya.

Melihat Lidya bergerak naik turun dengan erotis sambil mengendarai penisnya menuju puncak kenikmatan, tak urung Pak Hasan naik kembali nafsunya. Ia meremas — remas buah dada sentosa milik Lidya. Harga dirinya lenyap ditelan nafsu maut, Pak Hasan tidak hanya telah menyetubuhinya, tapi entah bagaimana kini Lidya justru berada di atas dan mengatur gerakannya sendiri. Mertuanya yang cabul telah membalik posisi mereka tanpa ia sadari.

Lidya masih belum melepas rok mininya yang kini menutup bagian selangkangan mereka berdua. Ia benci sekali posisi ini karena berkesan dialah yang sedang menyetubuhi Pak Hasan dan bukan sebaliknya. Entah kenapa Lidya terus menggerakkan pinggulnya, makin lama makin cepat. Si cantik itu ingin cepat memperoleh kepuasannya, dia ingin cepat, lebih cepat, semakin cepat, lebih cepat lagi… naik turun, naik turun, terus, terus… terus!

Saat itulah tiba — tiba telepon genggam Lidya berdering, mengeluarkan ringtone lagu cinta salah satu band lokal. Lidya kaget mendengarnya dan kehilangan fokus dengan cepat, ia mencoba menarik diri dari atas tubuh Pak Hasan dan melepas penisnya dari dalam vagina. Namun satu tangan gemuk menahan pinggangnya.

Lidya yang kebingungan melanjutkan gerakannya sesuai perintah, naik turun untuk memberikan kenikmatan pada penis keras sang mertua. Namun matanya tak lepas dari telepon genggam yang ternyata tak sengaja ia bawa ke kamar ini. Konsentrasi si molek itu sudah buyar. Karena posisinya yang berada di bawah dan tangannya bebas, Pak Hasan meraih telepon genggam yang ada di atas meja di samping kasur, entah kapan Lidya meletakkannya di sana.

Ia harus memicingkan mata untuk bisa melihat nama orang yang menelpon wanita jelita yang kini tengah mengendarai penisnya dengan penuh nafsu. Ia tidak mau! Ia tidak mau menerima telepon suaminya sementara penis sang mertua tengah menancap di dalam vaginanya. Si cantik itu terus menerus menggelengkan kepala, ia hampir menangis ketika Pak Hasan tidak mempedulikan gelengan kepala menantunya yang pucat pasi dan memencet tombol penerima telepon. Lidya langsung merebut telepon genggamnya dari tangan sang mertua.

Keringat dingin mengalir deras membasahi dahinya. Pak Hasan hanya tertawa kecil tanpa suara. Aku susah sekali mencari waktu untuk menelpon. Baru bisa menelpon sekarang, pekerjaan banyak banget.

Iya… di sini sinyal juga sering susah… jadi tidak bisa sering telepon dan… tidak pasti ada sinyal…. Kamu kenapa? Iya, tersandung. Pak Hasan tergelak melihat kepanikan menantunya, Lidya melotot galak melihat mertuanya itu.

Seperti menahan sesuatu… memangnya kamu jalan kemana? Aku tersandung. Aku sedang… aku sedang mau ke dapur. Lidya melotot kepada mertuanya, namun rasa enak yang ia rasakan di selangkangan tak bisa ia pungkiri. Tubuh Lidya bergetar hebat, rangsangan luar biasa yang ia rasakan dari sodokan penis Pak Hasan ditambah suara Andi yang sedang ia dengar di telepon membuat si cantik itu gelagapan tak tahu harus berbuat apa.

Rangsangan hebat itu pula yang kini justru membuatnya menaiki puncak kenikmatan. Cairan cinta meleleh deras di dalam liang kewanitaannya, membuat sodokan Pak Hasan kian mudah. Ingin rasanya ia menampar wajah penuh kemenangan itu. Lidya memejamkan mata, ingin menangis rasanya. Susah sekali rasanya menahan teriakan karena vaginanya terus menerus digempur.

Kamu tidak apa — apa kan? Tangannya berusaha menjauhkan tubuh Pak Hasan untuk sementara waktu, susah sekali rasanya menerima telpon dari suaminya kalau memeknya terus saja dihajar oleh sodokan penis mertuanya sendiri seperti ini.

Memangnya kamu sedang apa sekarang? Jam segini? Hati — hati di jalan ya, SMS aku kalau kamu sudah mau pulang besok. Love you. Tak terasa beberapa titik air mata menetes dari bola mata yang indah yang kini berkaca — kaca. Lidya baru saja berbohong kepada suaminya. Ia berbohong kepada orang yang paling ia cintai. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa saat ini tubuhnya yang indah sedang telanjang dan disetubuhi oleh Pak Hasan, ayah Andi sendiri!!!

Pak Hasan menyeringai puas. Saat itu dia benci sekali laki — laki tua bejat yang kini tengah tertawa dengan penis tertancap dalam — dalam di lubang memeknya. Tapi umpatannya hilang ditelan gerakan maju mundurnya sendiri. Kemarahan yang dirasakan Lidya justru membuat nafsunya kian tak terkendali, ia bagaikan binatang yang tak bermoral dan menghamba pada nafsu.

Tanpa dirasa, walaupun membenci mertuanya hingga ke ujung ubun — ubun, dia jugalah yang memberikan Lidya kenikmatan permainan cinta yang sesungguhnya.

Mereka tidak sedang bermain cinta, atau bahkan bergerak menekan satu sama lain. Pak Hasan hanya diam saja terbaring di atas kasur, penisnya yang menjijikkan bagi Lidya beraksi penuh kuasa di dalam liang cintanya.

Selangkangan mereka masih bertaut ketika telepon genggam Lidya dilempar ke samping tempat tidur oleh si molek. Lidya mencondongkan tubuh ke depan, buah dadanya yang kenyal ia tekan ke dada sang mertua yang gemuk.

Si cantik itu tidak percaya ia melakukan ini dengan kemauan sendiri tanpa diminta oleh Pak Hasan, sungguh gila. Tidak hanya ia membiarkan Pak Hasan menyetubuhinya tanpa perlawanan, kini ia malah bersedia memuaskan nafsu sang mertua yang bejat. Mertuanya yang arogan hanya terbaring di sana sementara Lidya mencium bibirnya dan menaikturunkan pinggulnya, sebisa mungkin ia melesakkan penis sang mertua dalam — dalam tiap kali diturunkan.

Lidya membuka mulutnya, menanti lidah sang mertua menjelajah ke dalam mulutnya. Pak Hasan menyapu bibirnya yang basah oleh liur Lidya yang bercampur dengan cairan lain dari mulut sang menantu.

Lidya berusaha mengangkat bagian atas tubuhnya agar bisa bernafas sementara selangkangannya terus menerima sodokan dari bawah, ditusuk hingga ke dinding terujung. Penis gemuk yang menjelajah di liang terdalam kewanitaan Lidya berdenyut pelan seperti menikmati ditekan oleh dinding yang sempit. Masih dengan mulut yang saling berpagut, Pak Hasan membalik tubuh Lidya dan membaringkan menantunya di atas kasur, memutar posisi mereka. Perut gemuknya ditekan hingga pipih di atas perut Lidya yang ramping.

Pakaian si cantik itu sudah acak — acakan ketika Pak Hasan mulai memajumundurkan pinggang untuk menyetubuhi sang menantu. Menumbuk tubuh mungilnya di atas ranjang acak — acakan dan basah oleh keringat keduanya. Kaki jenjang Lidya direntangkan lebar — lebar dan lututnya ditekuk. Wajahnya yang cantik acak — acakan oleh ulah Pak Hasan yang tak henti — hentinya mencium. Lidya berulang memejamkan mata merasakan batang kemaluan sang mertua keluar masuk di liangnya.

Tubuh berat Pak Hasan membebani tubuh Lidya yang kecil dan ramping. Pak Hasan melenguh keras, ia meremas payudara Lidya beberapa kali sebelum mengangkat bulat pantat si cantik itu dan menusukkan penisnya dalam — dalam. Makin lama makin cepat. Pria tua itu mengangkat kepalanya tinggi — tinggi ketika ujung gundul penisnya meledak di dalam kemaluan sempit sang menantu. Buah pelirnya bekerja dengan baik memberikan supply sperma yang berlebih dan membantunya memancarkan cairan kenikmatan di dalam liang kemaluan Lidya hingga penuh tanpa menghentikan gerakan maju mundur pinggulnya.

Lidya berteriak kencang sambil mencakar bahu sang mertua, si cantik itu rupanya juga mengalami orgasme yang telah ditunggu — tunggu. Ia mengejang sesaat dan kemudian terbanting lemas.

Saat kemudian ia sadar, Lidya hampir — hampir tak bisa bernafas karena tubuh gemuk Pak Hasan ambruk menimpanya. Lidya tak mampu menggerakkan tubuh karena terkunci pelukan sang mertua. Kakinya yang jenjang masih terbentang lebar, untuk memudahkan Pak Hasan melakukan penetrasi. Cairan cinta mereka yang beradu di dalam liang kemaluannya terasa berat dan kental, membuat ia merasa becek.

Lama kelamaan Lidya megap — megap karena tak kuat lagi menahan beban. Lidya sempat tersentak kecil ketika penis itu keluar dengan menimbulkan bunyi plop yang nyaring. Karena tidak mampu berpikir dengan jernih Lidya hanya bisa mendesah tanpa arti.

Ia juga tak bisa melakukan apa — apa ketika lengan gemuk Pak Hasan memeluk tubuhnya erat. Si cantik itu terlalu lelah untuk mengeluarkan kata.

Dia hanya ingin tidur dengan nyenyak malam ini. Untaian udara dingin malam yang tertinggal dalam dekapan pagi tersebar di seluruh Desa Kapukrandu, menyatu dalam kabut yang hanyut, memberikan nuansa syahdu dalam kesederhanaan yang bersahaja menyambut pagi yang ceria.

Langkah kaki jenjang Lidya yang menyusur jalanan desa tidaklah sendiri di pagi yang dingin ini. Si cantik itu menyunggingkan senyum dan menganggukkan kepala berapa kali saat bertemu anak — anak desa berpakaian sekolah yang asyik bersenda gurau dan mengayuh sepeda mereka agar tidak terlambat masuk sekolah. Di pengkolan di ujung kampung, ibu — ibu penjaja dagangan sudah membuka lapak bahkan sebelum sang surya hadir menyambut pagi.

Sayur mayur dan bumbu dapur digelar untuk menarik minat pembeli. Ramainya ibu — ibu bersenda gurau dan bertukar berita hanya bisa disaingi oleh teriakan penjual mainan anak — anak. Lidya sengaja berjalan pelan. Si molek itu tidak ingin sedikitpun kehilangan momen indah di Desa Kapukrandu karena hari ini adalah hari terakhirnya di desa yang sejuk ini.

Lidya teringat, beberapa hari yang lalu ia malas sekali pergi ke tempat ini karena takut dengan perlakuan Pak Hasan. Kekhawatirannya beralasan dan apa yang ditakutkan benar terjadi bahkan lebih parah lagi, ia melakukan hal — hal yang sebelumnya tidak ia sangka akan ia lakukan. Pak Hasan telah memperlakukannya dengan kasar, mencabuli dan memperkosanya. Tapi…… Desa Kapukrandu yang sejuk ini telah memberikannya pelajaran berharga, untuk tidak menilai seseorang hanya dari sisi buruknya saja.

Tiap orang memiliki dua sisi kehidupan yang saling mendukung walaupun dasarnya bertolak belakang. Bisa juga setiap orang membutuhkan keduanya karena pada dasarnya manusia tidak ada yang sempurna. Jika hendak mengagumi seseorang karena sisi baiknya, persiapkan hati saat mengetahui sisi buruknya. Seorang pejabat tinggi yang terlihat santun, sopan dan berwibawa ternyata koruptor yang doyan tidur dengan gadis yang jauh lebih muda dan bukan istrinya.

Bandingkan dengan orang yang kasar, kotor dan tidak berpendidikan tinggi namun rela membantu dan berkorban demi orang lain tanpa memungut biaya. Siapa sangka dibalik wajahnya yang menjijikkan dan selalu membuat Lidya bergidik ketakutan, Pak Hasan adalah orang yang sering dimintai bantuan bahkan pernah menjadi teladan bagi rakyat Desa Kapukrandu?

Bagaimana tidak, mertuanya itu dulu pernah bertugas sebagai kepala desa! Hari ini Pak Hasan pergi ke kelurahan untuk berpamitan dengan teman — temannya di sana. Setelah bercinta habis — habisan semalam, rasanya asyik juga kalau hari ini Lidya pergi mandi ke sungai. Pak Hasan bilang kalau ada satu tempat di mana Lidya bisa mandi tanpa perlu khawatir ada orang yang mengintipnya, tempat itu sepi, tak diketahui banyak orang dan airnya jernih.

Sepertinya menyenangkan membasuh tubuhnya yang terasa kotor karena semalam dihujani cairan cinta Pak Hasan. Untuk sampai ke tempat itu Lidya harus melalui jalan yang agak susah dan hanya bisa dicapai dengan jalan kaki, tidak — apa — apa batin si cantik itu, hitung — hitung olahraga pagi. Dari ujung jalan di dekat pengkolan penjaja sayuran, Lidya berjalan lurus ke arah sungai. Tidak banyak yang pergi ke sungai karena hampir sebagian besar masyarakat desa sibuk dengan pekerjaan pagi mereka.

Setelah sampai di tepian sungai Lidya menyusurinya hingga masuk jauh ke dalam rerimbunan pepohonan. Di tempat ini pohon — pohon rindang berbaris tak rapi melindungi jalan setapak yang menurun, suasana yang masih asli dan asri, tak akan bisa ditemui di kota. Pantas saja Pak Hasan bilang kalau malam minggu anak — anak muda Desa Kapukrandu sering berpacaran di sini sementara pada malam hari para dukun mencari wangsit juga di tempat rimbun ini. Berbeda dengan wilayah lain di luar Desa Kapukrandu yang cenderung gersang dan kering, tempat ini seperti hutan oase di tengah padang pasir dengan sungai yang mengalir dari sisi pegunungan hingga turun untuk memberikan sumber penghidupan bagi rakyat desa.

Karena jauh dari jalan utama, tempat itu jarang dilewati orang. Sejak menyusuri sungai Lidya tidak melihat siapa — siapa lagi. Bahaya juga kalau — kalau dia tersesat. Untung saja Pak Hasan mengatakan asal dia menyusuri sungai, Lidya tidak akan tersesat. Si cantik itu berusaha menghapal lokasi tempatnya berjalan, mencoba menghapal beberapa pohon yang bisa membantunya pulang nanti.

Dinginnya air, sejuknya angin, nyamannya suasana. Semua mendukung Lidya untuk menikmati pagi. Bahkan mungkin ia terlalu menikmati… ketidakhadiran Pak Hasan membuat Lidya bebas melakukan apa saja hari ini. Apalagi setelah dari kelurahan, mertuanya itu akan mengurus penyelesaian beberapa hutang dengan teman — temannya yang lain, kalau tidak salah namanya Koh Liem atau siapa.

Hari yang bebas. Akhirnya Lidya sampai di sebuah tempat yang seperti Pak Hasan bilang, tersembunyi dan aman baginya untuk mandi. Lidya berhenti sejenak sebelum melangkah. Yakinkah dia tempat ini aman? Lidya melihat ke arah sekitar, rimbunnya pepohonan tinggi membuat tempat ini seperti hutan yang terlindung dari cahaya sang surya. Peralihan udara dari dingin ke hangat disambut kabut tipis yang mulai menghilang dan semilir angin menyejukkan.

Udara pagi ini juga sangat cerah, hampir tidak ada awan bergantung di langit dan burung — burung mulai berkicau ramai menyenandungkan lagu ceria menyambut mentari. Benar apa kata Pak Hasan. Tempat ini memang cukup tersembunyi, pepohonan rindang menutupi sisi dengan dahan saling berkait dan tumbuh — tumbuhan berduri menghalangi pandangan siapapun dari arah seberang.

Sebaliknya tempat ini juga cukup baik untuk memantau seandainya ada orang yang datang karena tempatnya agak lebih tinggi dari jalan setapak dan sungai yang mengalir ke desa. Air yang mengalir begitu jernih dan bening sehingga nampak segar sekali. Jadi… amankah tempat ini? Mungkin tidak, tapi dia tidak lagi peduli.

Lidya melepas pakaian yang ia kenakan, mulai dari kaos, celana selutut hingga pakaian dalamnya. Melihat suasana, Ia cukup merasa aman untuk mandi telanjang. Lidya geli dengan keberaniannya, mungkin karena sudah pernah melakukan hal — hal aneh di mal dan pasar, Lidya menjadi sedikit berani membuka pakaian. Sedikit demi sedikit Lidya mencelupkan ujung kakinya yang jenjang ke dalam air, merasakan lembutnya sapuan air dingin yang menyentak dan menyegarkan. Sambil memejamkan mata, si jelita itu masuk ke air.

Mulai dari ujung jari kaki, lalu betis, lutut, paha, pinggul, perut dan akhirnya dada serta kepala. Seluruh tubuh Lidya kini sudah masuk ke dalam dinginnya air di pagi hari.

Untuk sesaat ia menggigil kedinginan, namun sinar mentari yang akhirnya berhasil menembus payung alami di atas rindang pepohonan membuat tempat di mana Lidya berendam jadi terasa hangat. Lidya tidak menyukai apa yang ia alami di Desa Kapukrandu karena memberikan kenangan yang tak menyenangkan baginya.

Namun tempat ini bagaikan mutiara dalam tiram. Penyejuk jiwa dan pemberi keseimbangan batin. Mengherankan, di tempat gersang seperti Desa Kapukrandu ada juga wilayah hijau seperti ini, indah, asri dan asli. Sejenak Lidya terdiam, lalu tersenyum sendiri, ia akan meralat kata — katanya barusan, ia menyukai apa yang ia alami Desa Kapukrandu. Lidya segera membasuh bagian — bagian tubuhnya, menikmati deburan air menumbuk tubuhnya yang telanjang.

Segar sekali rasanya, ia merasa bersih, merasa tenang dan pada akhirnya, ia merasa nyaman. Setelah sekian lama berada di dalam air, si cantik itu naik kembali ke darat, menyeka seluruh tubuhnya dengan handuk kecil yang sudah ia siapkan sejak tadi. Ia menyeka buah dadanya, yang masih memiliki bercak merah bekas cupang bibir Pak Hasan.

Sebenarnya, seluruh tubuhnya masih memiliki bekas cupang. Lidya membersihkan tubuhnya dengan hati — hati sekali, merasakan kesegaran angin berhembus di tubuhnya yang basah. Begitu enaknya hingga si cantik itu memejamkan mata. Hembusan angin begitu sejuk hingga benak Lidya melayang jauh dan jauh dan semakin jauh. Ia seperti memilliki sayap yang terkembang dan terbang naik ke awan.

Dalam khayalnya, Lidya membayangkan ada alunan suara yang memintanya untuk merenggangkan kaki. Bisikan gaib yang menghipnotisnya untuk menuruti kehendak jiwanya. Suara yang datang entah dari mana namun meminta Lidya untuk menurut apa kata hatinya. Ia merenggangkan kaki selebar — lebarnya.

Telunjuk jari tangan kanannya menyentuh bibir dengan lembut, merasakan gesekan antara jari dan bibir, merasakan sentuhan ringan yang membuatnya merasa nyaman.

Tanpa ia sadari, handuk kecilnya telah terjatuh… Lidya membuka bibir dan memasukkan jari ke dalam ke dalam mulutnya, suara gaib yang menuntunnya kini memintanya mengulum jarinya sendiri. Bagaikan kesurupan, Lidya patuh dan menghisap jari jemarinya sendiri seperti permen. Tapi ia tak melakukannya lama — lama… Dengan tangan bergetar Lidya menyentuh selangkangannya, mencoba mencari bibir memeknya yang mungil. Tanpa sadar, Lidya mulai mengusap bibir kemaluannya dengan dua jari tangan kirinya.

Kepuasan… dia menginginkan kepuasan… saat ini juga… segera… cepat… semakin cepat… segera…. Tangan kanan yang jarinya sempat ia kulum kini meraih bulat buah dadanya yang kenyal. Jemarinya menarik puting susunya sendiri, memilin dan memijatnya, memohon kepuasan. Lidya mulai menghamba pada nafsunya sendiri tanpa disadari… Perlahan — lahan Lidya berbaring di rerumputan yang ada di samping sungai, ia tidak peduli lagi tempat itu kotor atau tidak. Bidadari molek itu mengangkat kakinya dan merenggangkannya lebar — lebar.

Matanya yang indah dipejamkan bersamaan dengan keluarnya lenguhan nafsu dari bibirnya yang mungil. Ia seperti sedang kerasukan, mencari kepuasan dengan menikmati tubuhnya sendiri. Jari jemari jenjang turun ke bawah, masuk di antara selangkangan. Dengan jari telunjuk dan jari manisnya sendiri, Lidya membuka lebar — lebar pintu cinta kewanitaannya, pintu cinta yang telah basah.

Sudut ibu jari digesekkan ke bagian atas bibir memek untuk mencari kunci kenikmatan dan ketika ia menemukannya, Lidya melenguh pelan. Jari tengah dimasukkan ke dalam vagina, diputar untuk menjelajah dinding kemaluannya sendiri. Desahan demi desahan manja keluar dari mulutnya yang dahaga oleh nafsu. Jemari Lidya yang lentik basah oleh cairan cinta yang meleleh dari dalam liang kewanitaannya. Jari jemari itu bergerak lincah keluar masuk sementara remasan tangan pada buah dada menjadi sumber kenikmatan lain.

Ia terus menerus meremas, memilin dan meraba bagian membusungnya yang indah. Dalam bayangannya ia sedang bergumul dengan seseorang yang tak terlihat, yang mencoba menyetubuhinya, yang berkuasa dan memaksanya, yang terus menerus menjamahnya.

Kepalanya berdenyut seakan ada bunyi genderang bertalu — talu yang memekakkan telinga. Semua rasa takut dan malunya sudah hilang ditelan nafsu, ia kian merenggangkan kaki dan mendesah tanpa bisa bertahan.