Cerita sex ngentot ustazah - Video Terbaru Hari ini

Cerita sex ngentot ustazah - Video Terbaru Hari ini

Dengan temen sendiri di mobil seru sekali mainnya. Asoy Abis

389.112 views

Punya istri orang jepang asyik main tiap hari

381.090 views

Mahasiswi kedokteran, muka nerd tp seksi banget

306.982 views

Yang lagi viral, main di kost sendiri

316.331 views

Jilban pinter sepong di mobil pacar

322.572 views

Hentai terbaru, eksekusi temen sekolah baru kenal

309.678 views

Pijat plus-plus, dateng masa ga pake celana dalam

315.098 views

Ngintip kakak sendiri maen sama pacar ampe becek

364.226 views

Seru maen HP, Ga sadar di eksekusi temen sendiri

390.082 views

Dirayu pas pijat, terapis jilbab sepong dan crot di dalem

377.203 views

Mainkan Dan Menangkan Semua Taruhan Togel bersama GOTOGEL

LOGIN

DAFTAR

Dari belakang Azam dapat melihat jelas bibir vagina Firda yang terlihat masih sangat rapat dan tembem. Nama wajib. Sekilas ia menatap kemaluan Https://barnabydixson.com/bokep/cara-memakai-jilbab-pengantin-muslimah-modern.php Nur cerita sex ngentot ustazah berkedip, memperhatikan saat benda itu berkedut-kedut ringan seiiring nafas Ustazah Nur yang cerita sex ngentot ustazah cepat karena saking malunya. Vagina More info Nur jadi terlihat licin dan mengkilap sekarang. Apapun keadaannya harus ia terima, meski itu artinya ia tidak pernah sekalipun mengalami orgasme selama 1 tahun pernikahannya.


Dengan begitu saya bisa memastikan jenis benjolan yang ada di kewanitaan Ustazah. Follow Following. Ah, click here penyakitnya sangat perlu untuk diobati. Pada suatu hari aku diajaknya untuk mengikuti suatu undangan dari kecamatan dengan https://barnabydixson.com/bokep/jilbab-bahan-bubble-pop.php keagamaan. Air cinta Ustazah Nur yang mulai mengalir keluar diusapnya dengan hati-hati agar tidak menghalangi pandangan. Cfrita saja umi purwanti yang cerita sex ngentot ustazah itu usaha butiknya berkembang semakin pesat dan membuatnya makin sibuk merasa terbantu oleh keberadaan ponakannya itu di rumahnya.


Tapi sebelumnya, kalau boleh tahu, pemeriksaan macam apa yang akan dokter lakukan? Dengan begitu saya bisa memastikan jenis benjolan yang ada di kewanitaan Ustazah. Perawat berjilbab yang sejak tadi menyiapkan segala sesuatu, sekarang berbalik pergi meninggalkan ruangan, menyisakan dokter Pram dan Ustazah Nur hanya berdua di tempat yang sepi itu.

Jantung Ustazah Nur berdegup kencang, dia teringat berbagai cerita mengenai pap smear dari rekan- rekannya. Kebanyakan kisah mereka sungguh menakutkan karena harus memamerkan mahkota yang paling berharga kepada lelaki yang bukan muhrim, padahal sepatutnya hanya kepada suami sajalah mereka boleh memperlihatkan pemandangan indah itu. Dalam hati, Ustazah Nur ingin menolak, namun dia bingung juga akan keadaan dirinya, apalagi mengingat kata-kata dokter Pram barusan.

Ia terancam terkena kanker rahim! Oh, sungguh sangat menakutkan. Bayangan akan ancaman kanker rahim membuatnya menurut dengan cepat. Dokter Pram menunjuk dua penyangga yang ada di ujung ranjang, saat Ustazah Nur meletakkan kedua kakinya disana, posisinya sekarang jadi seperti mengangkang.

Kedua pahanya terbuka lebar, sementara kemaluannya terekspos bebas, siap menerima tatapan dokter Pram yang akan menghujam sebentar lagi. Laki-laki itu berdiri di ujung ranjang, tepat di tengah-tengah celah kaki Ustazah Nur. Tampak sebagian paha Ustazah Nur sedikit terbuka, juga selangkangan perempuan cantik itu yang tampak menggembung indah. Dokter Pram menatap nanar kesana, seperti tengah menyantap dan menikmati betapa mulus dan mempesonanya aurat Ustazah Nur.

Ustazah Nur sendiri bukannya tak sadar diperhatikan seperti itu, namun apa daya, ia tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah semua itu. Sama sekali tidak ada! Yang bisa ia lakukan sekarang cuma duduk terdiam pasrah sambil berharap pemeriksaan itu berlangsung cepat sehingga rasa malu yang menggumpal di hatinya tidak bertambah menjadi lebih besar lagi.

Ustazah alim ini memakai stoking putih panjang hingga ke ujung lututnya, meski begitu, separuh tubuhnya sudah telanjang sekarang. Memang dia masih memakai baju dan jilbab lebar untuk menutupi tonjolan buah dadanya yang membusung indah, tapi bagian bawah tubuhnya -yang merupakan bagian paling intim- justru terbuka lebar.

Dokter Pram menelan ludah, dia memang beruntung. Meski sudah banyak melihat berbagai bentuk dan rupa kemaluan wanita, namun milik Ustazah Nur ini tampak sangat spesial. Masih tertutup celana dalam saja sudah terlihat begini indah, apalagi kalau dibuka. Membayangkannya membuat penis sang dokter yang sudah lama tidak terbangun, jadi menggeliat lagi.

Ditambah kulit paha Ustazah Nur yang begitu putih dan mulus, jadilah dokter Pram menyeringai mesum karenanya. Tampak begitu indah dan sempurna. Meski baru saja dipakai untuk melahirkan, benda itu tetap terlihat imut dan lucu, begitu sempit dan mungil, tampak tidak melar sama sekali.

Pasti rasanya masih sangat menggigit. Dengan warna merah kecoklatan, dan rambut yang tercukur rapi tumbuh di bagian atasnya, jadilah kemaluan itu begitu mantab dan mempesona. Ustazah Nur bukannya ikhlas diperhatikan seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, mau mundur sekarang juga percuma, dokter Pram sudah terlanjur menatap kemaluannya. Ia sebenarnya malu bukan main, air mata mulai menetes di sudut kelopaknya, tapi apa yang bisa ia lakukan? Ini prosuder normal, hanya dengan begini dokter Pram bisa mendiagnosis penyakitnya, meski itu artinya ia harus merelakan dokter tua itu mengutak-atik kemaluannya.

Ustazah Nur menghela nafas, demi kesembuhan, tampaknya ia harus rela melakukan itu. Tanpa memperhatikan ekspresi Ustazah Nur yang malu dan takut, ia mengambil krim dari salah satu tube yang tertata rapi di meja dan mengoleskan ke telapak tangannya.

Ustazah Nur memperhatikan dengan seksama saat dokter Pram meratakan krim itu ke permukaan kemaluannya. Ustazah Nur bergidik, baru kali ini ada lelaki lain yang memegang kemaluannya, dan bukan cuma memegang, tapi sudah memijit dan menggesek- gesek meski sama sekali tidak terlihat punya niat buruk.

Jari-jari dokter Pram bergerak dengan ringan, membelai bibir kemaluan Ustazah Nur, berusaha meratakan krim di tangannya sesempurna mungkin. Vagina Ustazah Nur jadi terlihat licin dan mengkilap sekarang. Tadi saja sudah terlihat begitu indah, apalagi sekarang. Dokter Pram yang sering melihat kemaluan wanita saja, sempat berhenti sebentar karena saking terpesonanya. Sekilas ia menatap kemaluan Ustazah Nur tanpa berkedip, memperhatikan saat benda itu berkedut-kedut ringan seiiring nafas Ustazah Nur yang semakin cepat karena saking malunya.

Ingin ia melihat lebih lama lagi, namun janji sumpah setianya sebagai dokter melarang hal itu. Maka sambil sedikit bergidik, dokter Pram menarik pandangannya. Ustazah Nur yang tidak diberi kesempatan untuk bernafas, kontan mengeluh karenanya. Namun sepertinya dokter Pram tidak mengetahui, atau tidak peduli? Entahlah, yang pasti, laki-laki itu terus memegang dan memeriksa alat kelamin Ustazah Nur.

Dengan jari- jari tangannya yang panjang dan keriput, dia terus mengelus dan memijitinya. Ditelusurinya vagina cantik Ustazah Nur tanpa berkedip, tiap bagiannya ia perhatikan dengan teliti. Air cinta Ustazah Nur yang mulai mengalir keluar diusapnya dengan hati-hati agar tidak menghalangi pandangan. Dokter Pram sepertinya jenis orang yang teliti. Sang ibu guru muda yang diperlakukan seperti itu, sebenarnya ingin protes, namun tidak berani. Siapa tahu ini benar-benar prosedur normal, bukan seperti kata hatinya, yang merasa kalau jari-jari tangan dokter Pram seperti merangsang dirinya!

Sama seperti yang biasa dilakukan suaminya ketika merayu untuk mengajak bercinta. Akibatnya, cairan kewanitaan Ustazah Nur jadi meleleh deras sekarang. Semakin lama menjadi semakin banyak. Karena malu, ia pun menguatkan diri untuk melayangkan protes. Ustazah Nur tidak ingin digoda lebih lama lagi.

Sudah tahu kalau kewanitaannya baik-baik saja, kenapa masih dipegangi juga? B- bersalaman aja k-kita tidak boleh, a-apalagi bersentuhan s-seperti ini! Wajah cantiknya sudah memerah karena malu. Begini lebih baik, hasil diagnosanya bisa lebih akurat.

Yang penting Ustazah cepat sembuh. Kalau tadi cuma permukaannya yang terlihat -yang mana itu sudah membuat Ustazah Nur malu bukan main-sekarang seluruh lorong dan celah kewanitaan sang Ustazah terlihat jelas. Sungguh indah bukan main. Warna dan lipatannya yang masih tampak sempurna sanggup membuat dokter Pram terdiam.

Lagi-lagi pria itu terpesona, bagaimana bisa wanita alim seperti Ustazah Nur yang jarang merawat tubuh bisa memiliki alat kelamin sebagus ini. Sungguh suatu anugrah dari yang kuasa. Mungkin ini yang namanya karunia, kalau tidak mau dikatakan mukjizat. Dengan satu jari ia mengorek kemaluan Ustazah Nur.

Tak dinyana, Ustazah Nur yang sejak tadi sudah matian-matian berusaha menahan diri, tiba-tiba saja berteriak kencang. Doktor Pram sempat terkejut, namun selanjutnya tersenyum penuh pengertian. Sepertinya saya tidak menyentuh bagian yang sakit. Memang tidak lebih kecil sih, tapi ukuran penis suaminya sama dengan jari dokter Pram Menyedihkan bukan?

Melihat keterpanaan Ustazah Nur, doktor Pram tersenyum nakal dan meneruskan aksinya. Ia nekad berbuat seperti itu karena meski melihat Ustazah Nur marah, tapi wanita itu seperti terlihat pasrah. Hanya mulut dan matanya yang memprotes, sementara gerak- gerik dan isyarat tubuhnya menunjukkan hal yang sebaliknya. Benda itu sudah sangat membanjir sekarang.

Ustazah Nur terdiam, tubuh sintalnya menggeliat, namun tidak bisa melepaskan diri dari kekangan penyangga yang menahan kakinya. Usahanya memang tidak terlalu keras, karena meski ia tidak menginginkannya, perbuatan dokter Pram sanggup memancing gairahnya secara perlahan. Itu yang membuatnya jadi sedikit pasrah. Tangannya bergerak mengusap pelan kelentit Ustazah Nur, mencoba menaksir apa kiranya benjolan merah yang terasa kaku itu. Bukan saja karena kaget, tapi juga karena rangsangan birahi yang mulai menguasai tubuh sintalnya.

Bagaimana tidak? Sambil mengusap kelentit, salah satu jari dokter Pram terus menjejalahi lubang kemaluannya. Laki-laki itu seperti merangsangnya. Misalkan ditambah jilatan, lengkaplah sudah ritual mesum itu. Tebalnya iman yang biasanya ia bangga- banggakan, perlahan terhapus oleh bayangan penis sang dokter yang katanya lima kali lipat besarnya. Kalau pakai jari saja sudah begini enak, gimana kalau pakai penis sungguhan?

Ah, Ustazah Nur mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa berpikir seperti itu. Mencoba mengusir bayangan mesumnya, ia pun menarik nafas panjang. Dengan dokter Pram yang menarik jarinya dan sekarang berdiri di sampingnya, ia jadi bisa melakukan itu. Habisnya, tubuh Ustazah begitu indah. Baru kali ini saya dapat pasien yang sanggup bikin saya lepas kendali. Saya juga minta maaf, saya bisa mengerti kok. Apapun sesuatu yang ada di dalamnya, kini sudah terbangun dan menggeliat, menampakkan keperkasaannya.

Tanpa sadar, Ustazah Nur menelan ludahnya. Bayangan penis yang besarnya lima kali lipat dari milik sang suami kembali menggoda pikirannya. Bukankah tadi ustazah bilang kalau perut bagian bawah yang sakit? Benjolan itu seharusnya tidak menghasilkan efek seperti itu.

Saya takut ini karena sebab lain. Matanya tetap melirik selangkangan si dokter tua. Untuk sekarang, saya ingin melakukan pemeriksaan secara visual. Seperti yang saya lakukan pada kewanitaan ustazah. Dokter Pram ingin melihat seluruh tubuhnya! Apa ia tidak salah dengar? Diperiksa di bagian kemaluan saja sudah membuatnya malu setengah mati, sekarang malah dokter itu ingin melihat seluruh tubuhnya.

Ini sudah tidak benar. Ia harus menolak. Seberapapun kuat gairah yang sudah menguasai tubuh sintalnya, Ustazah Nur mencoba untuk melawan. Harkat dirinya sebagai seorang wanita terhormat yang taat menjalankan ajaran agama sedang dipertaruhkan, dan ia tidak ingin kalah.

Sepertinya s-saya tidak bisa melakukan itu. Inilah kalimat paling benar yang ia ucapkan selama 10 menit terakhir.

Dokter Pram menoleh. Dokter Pram mengangguk dan tersenyum, sedikit meminta maaf. Saat mengatur letaknya, jarinya sedikit menggesek, seperti sengaja menyentil kelentit sang ustazah untuk yang terakhir kali. Sedikit berjengit, namun tidak bisa marah, Ustazah Nur menghela nafas lega. Untunglah, ia bisa lolos dari awal perbuatan zina.

Namun dokter Pram yang sudah mulai tergoda, tentu saja tidak akan melepaskan mangsanya begitu mudah. Apalagi di saat yang sama, Ustazah Nur yang akan menurunkan kaki dari topangan, tiba-tiba mengeluh kesakitan. Cepat ia bereaksi, dielusnya pinggul Ustazah Nur dengan maksud untuk meredakan rasa sakitnya. Ustazah Nur yang tengah merintih- rintih, sama sekali tidak menghiraukan saat tangan sang dokter kembali menjamah kemaluannya.

Benjolan yang ada di kelentitnya tampak menonjol memerah. Dokter Pram segera menekannya. Tidak ada reaksi dari Ustazah Nur, sepertinya penyebab sakitnya bukan dari benda mungil itu. Sementara keringat dingin mulai keluar dari sela jilbabnya. Rasa seperti ditusuk dan dipelintir-pelintir terus merajam bagian bawah perutnya. Membuatnya jadi benar-benar tak tahan. Maka, sambil meringis kesakitan, ia pun merelakan saat tangan kurus dokter Pram membantu mencopoti kancing bajunya.

Tidak menjawab, Ustazah Nur menyingkap baju panjang dan daleman yang ia kenakan. Jadilah, dengan perasaan sangat malu namun kesakitan, ia berbaring hampir telanjang di depan dokter Pram. Hanya jilbab lebar dan beha putih susu yang masih tersisa di tubuh sintalnya. Yang lain sudah terlepas begitu mudah. Memang masih ada celana dalam, tapi benda itu seperti jadi penghias saja karena sudah tersingkap dari tadi, memperlihatkan lubang kemaluan Ustazah Nur yang sudah basah dan memerah.

Dokter Pram memandangi sejenak tubuh montok Ustazah Nur yang masih menggeliat-geliat menahan sakit. Ia perhatikan bahu ibu muda itu yang ternyata begitu bersih, putih sekali, dengan lekuk tubuh yang masih menampakkan keindahan meski baru saja melahirkan.

Bulatan payudaranya tampak begitu menggoda, sangat besar sekali. Sisi-sisinya yang padat dan putih mulus terlihat jelas karena beha yang dikenakan Ustazah Nur ternyata kekecilan. Ustazah Nur berusaha membenahinya dengan mendekapkan tangan di bagian atasnya, berharap bisa menghalangi pandangan sang dokter dari tonjolan buah dadanya. Dimulai dari bagian bawah perut. Ustazah Nur mengangguk. Bisa dirasakannya tangan sang dokter yang tengah meraba lembut kulit selangkangannya.

Dilanjutkan naik ke atas menuju bukit kemaluannya. Dokter Pram seperti meraba-raba rambut kemaluannya sebelum tangannya terus naik menuju ke bagian bawah pusar. Disini dokter Pram menekan sedikit, membuat Ustazah Nur sedikit berjengit namun tidak berteriak kesakitan.

Ustazah Nur menggeleng. Wajahnya memerah karena merasakan usapan tangan dokter Pram yang seperti menggelitik lubang pusarnya. Namun itu cuma sesaat, karena dokter itu sudah keburu melanjutkan rabaannya. Kali ini makin ke atas. Setelah memenceti sisi perut Ustazah Nur yang ternyata tidak berefek apa-apa, dokter Pram menggerakkan jari-jarinya ke pangkal dada Ustazah Nur yang masih tertutup bh. Boleh saya Tidak menjawab, Ustazah Nur mengalihkan pandangannya ke samping.

Tidak sanggup untuk melihat saat dokter Pram ingin menjamah bagian penting dari kewanitaannya. Kalau saja tidak sedang dalam kondisi genting dan kesakitan, tentu ia tidak akan mengijinkannya. Merasa mendapat restu, dokter Pram pun mengulurkan tangan. Pelan ia taruh jari-jarinya di atas gundukan payudara Ustazah Nur yang sebelah kiri. Ditekannya pelan dengan selembut mungkin. Saat melihat tidak ada reaksi, ia memindahkan tangannya sedikit lebih ke samping. Kembali ditekannya pelan.

Begitu terus hingga seluruh bagian payudara Ustazah Nur yang besar dan mengkal itu berhasil ia jelajahi. Rasanya sungguh nikmat dan empuk. Meski masih tertutup bh, tetapi tetap tidak bisa menghilangkan keindahannya.

Keringat dingin mulai keluar dari dahi sang dokter saat ia terus bekerja. Kali ini giliran yang sebelah kanan yang ia garap. Sama seperti tadi, ia juga memencetinya bagian demi bagian hingga terjamah seluruhnya. Rintihan halus mulai terdengar dari mulut manis Ustazah Nur. Wanita itu memejamkan kedua matanya rapat-rapat sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk meredam teriakan. Dokter Pram tersenyum, rupanya bukan dia saja yang tengah bergairah.

Menyeringai senang, iapun terus menggerakkan tangannya. Kini dengan dua tangan ia pegangi buah dada Ustazah Nur. Satu tangan untuk satu gundukan. Orang bodohpun tahu, posisi itu adalah posisi laki-laki yang sedang merangsang seorang wanita. Bukan seorang dokter yang tengah memeriksa pasiennya. Tapi bukan karena sakit, justru karena merasa nikmat oleh pijitan sang dokter. Sebentar lagi selesai. Tangannya terus bergerak meremas-remas tumpukan daging kenyal di dada Ustazah Nur yang membusung indah.

Ia sudah tidak lagi gemetar seperti tadi, kini sudah sangat mantab dan berani. Apalagi saat dilihatnya Ustazah Nur sama sekali tidak menolak, malah cenderung menikmatinya.

Dengan batang penis yang kian mendesak celana panjangnya, dokter Pram menepuk bahu Ustazah Nur. Wanita itu membuka sedikit bola matanya. Rasa sakit di bawah perutnya memang sudah hilang sekarang. Ustazah Nur berusaha mencerna kata-kata itu. Dengan begitu, saya bisa memastikannya dengan lebih teliti.

Ibu guru berjilbab itu kembali terdiam, berat sekali rasanya menanggung semua ini. Sebelum kesini tadi, ia sama sekali tidak menyangka kalau akan disuruh telanjang. Tapi sekarang? Ah, namun penyakitnya sangat perlu untuk diobati.

Rasanya sakit sekali kalau lagi kambuh. Lebih baik ia telanjang daripada merasakannya lagi. Bisa-bisa ia pingsan kalau rasa sakit itu datang lagi.

Maka, sambil menghela nafas panjang, Ustazah Nur pun berucap. Saya malu kalau harus melepasnya, malu sekali! Jari-jarinya menyusup masuk ke balik cup bh sang ibu muda. Dokter itu mengusap-usap pelan seluruh permukaannya yang halus dan mulus, terutama putingnya, beberapa kali jari dokter Pram seperti sengaja menjepit dan memilinnya, membuat butiran keringat mulai bermuncul di dahi Ustazah Nur yang masih tertutup jilbab.

Dokter Pram tersenyum menyaksikan betapa nafas pasiennya yang cantik ini mulai sedikit tidak teratur. Ia terus memijit dan meremas-remas, merasakan betapa payudara Ustazah Nur begitu licin dan empuk dalam genggaman tangannya. Pesona benda itu begitu luar biasa hingga membuat dokter Pram jadi ikut kesulitan untuk mengatur nafas.

Dari yang kiri, selanjutnya berpindah ke yang kanan. Ia terus meremas-remas payudara Ustazah Nur yang bulat besar dengan penuh kelembutan. Dari degup jantung dan deru nafas sang dokter yang kian memacu, sudah bisa ditebak betapa luar biasanya rasa bulatan kembar itu.

Tapi dokter Pram yang sudah terlanjur enak, tentu saja tidak mau berhenti begitu saja. Ustazah Nur terdiam, ia sudah tidak bisa lagi memprotes. Malah yang ada sekarang, bulu kuduknya mulai meremang. Lalu tubuhnya yang sintal jadi sedikit agak gemetar, dengan diiringi deru nafas yang mulai tidak beraturan.

Dengan jantannya, Tatang pun merebahnkan ustadzah yang sudah horny itu di atas sofa. Ukuran sofa yang kecil memaksa kaki Nyai Ratni tidak bisa selonjor dengan penuh namun sedikit naik karena tertopang pegangan sofa di seberang. Ia berjalan ke arah pintu ruangan dan menutup serta menguncinya.

Tatang pun kembali mendatangi sang bidadari surga pujaan hatinya yang telah terkapar menahan birahi di atas sofa. Subhanallah, gumamnya dalam hati. Tatang langsung melepas kancing baju kokonya dari atas ke bawah satu per satu.

Komentar binal seorang ustadzah terkenal itu membuat syahwat Tatang menggelegak. Ia langsung berlutut di sisi kaki Nyai Ratni yang penuh kepasrahan hati menelantangkan tubuh sintal khas sundanya si atas sofa. Tatang lepaskan sepatu hitam yang melekat di kaki isteri Ustadz besar itu, dan mengendus-endus bau kaki yang menyengat nan menggairahkan di kaos kaki Ratni.

Ia tanggalkan kaos kaki berwarna krem itu dan langsung mencaplok jemari kaki Ratni yang lentik dengan mulutnya. Nyai Ratni sampai terkaget-kaget dibuatnya. Tak pernah sekalipun suaminya yang shalih itu memanjakan birahinya seperti ini. Suaminya hanya menganggap bersenggama adalah cukup dengan memasukkan kontol ke dalam memek wanita, dan setelah itu selesai.

Mungkin ulama besar seperti beliau menganggap foreplay atau pemanasan seksual seperti ini hanya membuang-buang waktu belaka. Padahal Teh Ratni dan Teh Rini pun hanya wanita biasa yang butuh sensasi-sensasi baru dalam kehidupan seksual mereka.

Uups, Teh Rini? Insya Allah nanti saya akan ceritakan kisahnya. Dan saat ini, seorang ikhwan yang telah mempunyai isteri dan anak, bertubuh tegap, macho, dan berwajah rupawan sedang berlutut di bawah kaki Nyai Ratni dan menjilat-jilat serta menghisap-hisap jari-jemarinya yang indah. Hal itu seolah menghapuskan rasa dahaga Nyai Ratni akan aktivitas seksual yang sedikit di luar kebiasaan.

Nyai Ratni pun bertekad akan menundukkan diri sehina mungkin di depan lelaki yang telah bangkitkan gairah masa mudanya yang haus akan seks. Tanpa terasa, Tatang telah mengangkangi tubuh mungil istri idaman itu di atas sofa.

Ia telah menyingkapkan jubah putih Nyai Ratni hingga pinggang. Kini paha mulus dan berisi serta betis yang membujur indah yang selalu dijaga dari pandangan orang itu telah terekspos bebas dan telah dibanjiri air liur bekas jilatan Tatang.

Ya, Tatang telah selesai menyapu bersih sepasang paha dan betis indah seorang Nyai Ratni, isteri Ustadz Haji yang selama ini hanya ada dalam lamunan joroknya dan menghisap sejumlah besar air maninya yang habis ketika bermasturbasi menkhayalkan bersetubuh dengan maswat itu. Ia hanya memejamkan matanya sambil berdehem ringan yang langsung diartikan Tatang sebagai izin. Dalam hati wanita sholehah itu tersadar akan dosa dan zina yag ia lakukan. Bagaikan terkejut, seolahia diingatkan akan dosa zina ini.

Sesaat ia diam dan beristighfar. Hanya sedetikia tersadar dari dosa ini. Karena desakan syahwat yang melanda dirinya tak mampu dilawannya. Ia tak sanggup menahan amuk birahi yang melanda. Ia pun kembali larut dalam perzinaan yang nikmat dan syahdu. Dalam sekejap, jubah putih ummahat itu telah tergeletak di atas lantai meninggalkan pemiliknya tanpa busana, hanya jilbab kuning, bra putih dan celana dalam putih berenda yang tersisa menutupi tubuh indah Nyai Ratni.

Memek Nyai juga pasti lebih indah dan lebih legit! Jilbabnya gak dilepas sekalian? Tatang lebih suka Nyai pakai jilbab itu.

Lebih cantik dan lebih anggun. Jadi lebih semangat buat merasakan manisnya tubuh ustadzah kayak Nyai. Kamu kok binal banget sih.

Ya, masirnya sang ustazah itupun kehilangan sifat-sifatnya yang santun dan alim. Ruangan sempit itu, juga busana muslimah Nyai Rini yang telah berserakan di lantai semua telah terjadi. Seolah busana muslimah yang sehari-hari dipakai sang ustazah itu menjadi saksi atas perzinaan pemiliknya.

Begitu juga jilbab yang masih dipakai Nyai Ratni, seakan menjadi saksi bisu atas perbuatan dosa ini. Mau lihat kontol Tatang gak? Ia tak memperdulikan lagi bahwa Tatang adalah suami orang. Mau dunk. Kasih lihat kontol kamu sama Nyai dong. Tatang nggak denger. Coba ulangi lagi? Syahwat Nyai Ratni pun makin berkobar melihat tingkah Tatang yang seperti mempermainkan dirinya.

Nanti Nyai kasih liat memek Nyai deh, mau ga? Nyai Ratni merasa begitu terhina dengan tindakannya sendiri. Ia merasa harga dirinya telah tercabik-cabik di depan ikhwan perkasa ini. Ia langsung terkapar lemah sedangkan Tatang malah makin bersemangat mendengar bisikan luapan syahwat ustadzah alim yang telah menunjukkan kebinalannya itu telah ikhlas sepenuh hati merelakan bagian paling sensitif dan paling suci miliknya untuk dijamah Tatang.

Ia hadapkan kontolnya yang telah menegang dan mengangguk-angguk seksi itu pada wajah ummahat shalihah di depannya. Ia sorongkan seonggok daging berurat yang berdiameter 5 cm dan panjang yang lebih dari 20 cm serta berkepala kemerahan bekas sunat itu pada bibir Nyai Ratni. Tatang tersenyum melihat Nyai Ratni yang terkagum-kagum melihat batang kemaluannnya.

Ustazah cantik itu menelan ludah, sementara kontol Tatang menganggguk-angguk tepat di dekat wajah sang ustazah. Nyai Ratni menjulurkan tangan menggapai batang perkasa itu….

Tatang mendesis sshhhh……… Nyai, bolehkah aku menyentuh memek Nyai? Tangan Tatang turun ke bawah meraih bawah perut Nyai Ratni, turun lagi, dan mengusap-usap gundukan daging yang terletak di bawah perut sang ustazah. Cukup lama tangan Tatang bermain-main di kemaluan Nyai Ratni. Tangan Tatang yang telah terlatih begitu lembut mengusap-usap daging empuk aurat milik sang ustazah.

Dibelai-belai, dan diremas secara ritmis nan lembut, membuat Nyai Ratni tak mampu lagi bertahan. Pertahanannya runtuh total. Iman nya pun jebol. Kesetiaan yang selama ini menjadi pagar dirinyapun tak lagi diingatnya.

Seratus persen Nyai Ratni telah berniat menuntaskan perzinaan terlarang ini. Di ruangan yang sempit itu, seorang muslimah suci telah melepaskan jubah putih sehingga telanjang di hadapan seorang lelaki yang bukan suaminya.

Hanya jilbab yang masih tersisa di kepalanya. Dan sang lelaki bernama Tatang itu terus membangkitkan birahi sang ustazah, terus mengusap dan membelai-belai daging empuk di bawah perut Nyai Ratni. Tangannya masuk ke dalam celana putih berenda milik sang ustazah. Dengan kelima jari yang seolah bekerja secara kompak, jari-jari itu menggelitik setiap inci daging montok itu.

Sementara si Nyai cantik berjilbab itu merintih-rintih menahan nikmat. Dan jilbab suci sang ustazah , menjadi saksi atas perzinaan itu. Begitu pula dengan busana muslimah yang berserakan di lantai yang sedari tadi lepas dari tubuhnya.

Andaikan saja jubah putih yang tergolek dilantai itu punya mata dan telinga, pasti bisa ikut menikmati persenggamaan dan perzinaan yang sedang dan akan dilakukan oleh pemiliknya. Nyai Ratni yang telah dimabuk birahi itu begitu penasaran akan sebatang kontol yang mengangguk-angguk penuh nafsu di hadapannya. Ia pun mulai mengelus-elus kontol yang telah begitu tegang itu dengan tangannya yang lembut.

Entah sadar atau tidak, tangan kanan Nyai Ratni bergerak dari depan ke belakang berkali-kali dengan tempo sedang.

Ini membuat semacam kocokan yang makin membangkitkan gairah Tatang yang sudah telanjang bulat. Demi merasakan kocokan lembut ummahat berkacamata itu, Tatang semakin ditenggelamkan oleh birahinya sendiri. Ia letakkan lututnya di atas sofa dan memajukan penisnya yang begitu bergejolak sehingga menyentuh bibir merah muda ustadzah shalihah itu.

JIlbab kuning panjang Nyai Ratni terlihat sedikit basah akibat keringat yang mulai mengucur sehingga menampakkan dengan jelas body indahnya pada Tatang. Masukin kontol Tatang ke dalam mulut indah Nyai. Tatang boleh kan ngentotin mulut Nyai? Akkhhh… Ayo Nyai, gedean mana sih kontol Tatang sama punya suami Nyai? Habisnya punya kamu jauh lebih besar dan lebih panjang daripada punya suami Nyai.

Kamu ustadzah dan ummahat tapi omongannya kayak pelacur. Kontol aku kan bau banget. Kata-kata kotor terus keluar dari bibir Tatang sementara tangannya memegangi kepala Nyai Ratni yang terbungkus jilbab bagai memegangi kepala PSk pinggir jalan.

Ia telan bulat-bulat kontol yang telah berlendir di ujungnya itu, menunjukkan betapa terangsangnya pemiliknya. Sementara itu Nyai Ratni pun tak bisa berbuat apa-apa saking asyiknya ia mengulum kejantanan pria shalih di hadapannya.

Seperti robot yang selalu menurut apa kata tuannya, Nyai Ratni langsung memelorotkan celana dalamnya yang ternyata telah dibanjiri cairan cintanya akibat rangsangan-rangsangan yang dilancarkan Tatang betubi-tubi. Tak lupa ia tanggalkan pula bra putihnya hingga bagian-bagian paling vital dan sensitif itu tersingkap sudah. Mendengar pengakuan jujur itu, darah Tatang langsung menggelegak.

Berarti pagi ini ia akan menikmati manisnya kemaluan seorang isteri yang begitu alim ini lengkap dengan butir-butir ovum yang hangat, baru saja matang, dan pastinya siap untuk dibuahi beteteh-beteteh sperma yang begitu kental miliknya. Ia singkap sedikit bulu kemaluan ummahat yang cukup lebat itu karena belum sempat dicukurnya. Dibelahnya sedikit demi sedikit memek suci nan harum itu hingga ia melihat dengan jelas lapisan merah muda dengan butiran sebesar kacang menggantung di atasnya.

Seperti tak ingin cepat mengmasiri kenikmatan ini begitu saja, Tatang hanya mamarkir kepala kontolnya yang menggunung itu di sela-sela rerumputan hitam yang menutupi gundukan bukit menggemaskan milik seorang ustadzah terkenal itu.

Sebagai gantinya, ia merapatkan dadanya ke payudara Nyai Ratni dan menggesek-gesekkannya. Tak lupa payudara montok dan kencang itu walau tak begitu besar ia remas-remas sambil sesekali memelintir putingnya yang kecoklatan. Ia telah mabuk dalam kubangan nafsu kebinatangan yang terlarang akibat birahinya sendiri. Tatang, yang sekalipun shalih dan bertubuh tegap, namun tetap saja sebenarnya ia tak boleh menikmati manis dan harum tubuh dan alat seksual ummahat itu. Namun kini, Tatang tengah menumpahkan birahi jalangnya pada tubuh indah nan seksi ummahat itu.

Gilanya lagi, Nyai Ratni bukannya berontak atau menghindar, namun ia malah mengizinkan bahkan memaksa Tatang untuk berbuat cabul pada dirinya. Kamu kan ummahat shalihah, jilbab kamu aja panjang banget gini. Cepet yang….. Tak mau membiarkan bidadari berkacamata itu lebih tersiksa lagi, Tatang pun menurunkan pinggulnya perlahan.

Tanpa harus diperintah lagi, kepala kontol yang cukup besar itu mulai beraksi membelah vagina yang telah melahirkan beberapa orang anak itu. BEda sama punya isteri Tatang…. Entah kenapa Tatang kembali memanggil Nyai Ratni dengan sebutan Nyai. Dan itu terbukti, Nyai Ratni yang semula sedikit pasif, kini aktif kembali. Dengan kelamin yang sudah berkedut-kedut tak karuan, dan daraf sensualnya yang terus berkontraksi, Nyai Ratni mulai menghisap-hisap kontol Tatang yang berusaha menyeruak ke dalam rongga vagina yang sebenarnya haram buatnya.

Nyai Ratni pun kembali mendesah-desah binal seolah memberi semangat pada Tatang untuk segera menyetubuhinya. Setelah beberapa saat mengempot-negmpot kepala dan batang kontol Tatang, Nyai Ratni pun dapat merasakan kejantanan yang lebih besar daripada yang biasa ia layani sebelimnya itu menerobos masuk ke dalam organ vitalnya.

Tatang masuk, Nyai. Bismillahir Rahmannir Rahiiiiiiiiiiiimmmmmm. Nyai Ratni langsung menggeletar ketika merasakan sebatang penis dengan kehangatan dan ukuran yang jauh berbeda dari milik suaminya tercinta, memenuhi rongga memeknya. Rasa kenikmatan itu terus menjalar ke seluruh tubuh, apalagi ketika Tatang menarik kontol yang begitu ia banggakan itu disertai hentakan keras menekan dinding kemaluan suci itu setelahnya, hingga si empunya sampai menggelinjang dan mengangkat dadanya tinggi-tinggi.

Apalagi tak henti-hentinya Tatang meremas-remas peyudaranya dan melumat bibirnya yang merah muda. Ennnaaakkkk bangeeeettt….. Untungnya, teriakan binal ummahat yang begitu keras itu langsung diredam Tatang dengan bibirnya agar tak terdengar keluar.

Ternyata urat-urat di batang kontol Tatang telah benar-benar membuat Nyai Ratni menjadi gila. Ia pun turut menaik turunkan pinggul dan pantatnya yang montok seirama dengan goyangan erotis Tatang.

Nyai gila, memeknya unstadzah legit banget euy…. Setelah sekitar 30 menit digagahi oleh Tatang dengan liarnya, gelora birahi Nyai Ratni hampir sampai di puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya. Ia mulai meracau dan berteriak-teraik tak karuan, nafasnya sudah begitu memburu demi menatap kemaluannya yang cantik itu dipompa tanpa ampun oleh ikhwan yang tak henti-hentinya menghembuskan nafasnya yang panas dan penuh gairah ke wajah Nyai Ratni.

Nyai mau keluar lagi neh…..