Cerita dewasa kampung - Video Terbaru Hari ini

Cerita dewasa kampung - Video Terbaru Hari ini

Dengan temen sendiri di mobil seru sekali mainnya. Asoy Abis

389.112 views

Punya istri orang jepang asyik main tiap hari

381.090 views

Mahasiswi kedokteran, muka nerd tp seksi banget

306.982 views

Yang lagi viral, main di kost sendiri

316.331 views

Jilban pinter sepong di mobil pacar

322.572 views

Hentai terbaru, eksekusi temen sekolah baru kenal

309.678 views

Pijat plus-plus, dateng masa ga pake celana dalam

315.098 views

Ngintip kakak sendiri maen sama pacar ampe becek

364.226 views

Seru maen HP, Ga sadar di eksekusi temen sendiri

390.082 views

Dirayu pas pijat, terapis jilbab sepong dan crot di dalem

377.203 views

Mainkan Dan Menangkan Semua Taruhan Togel bersama GOTOGEL

LOGIN

DAFTAR

Aku akan didaftarkan ke SMA Negeri yang dekat rumah. Kusibak memek cerita dewasa kampung dengan dua please click for source, sehingga bertambah lebar terbuka, kuhirup sesaat aromanya, tercium aroma yg khas yg makin membangkitkan birahiku, kujulurkan cerita dewasa kampung dan mulai menjilati sekitar lubang memeknya, memek yg mulai basah, agak sedikit asin kurasakan, kudengar ada lenguhan tertahan dari mulut lilis, kulirik sejenak, kali ini matanya kulihat terpejam, dan mulutnya sedikit menganga, dari reaksinya sepertinya memang betul seperti apa yg dikatakannya bahwa dia memang belum pernah merasakan memeknya dioral oleh mantan suaminya dulu. Aku akhirnya menyerah dan memelorotkan celanaku sebentar memperlihatkan burungku yang ngacung lalu buru-buru menutupnya lagi. Melihat lilis yg sudah tak berdaya, kokom segera menjauhkan lubang anusnya dari wajahku, seraya desasa menungging disamping lilis. Soal apa yang kukerjakan kurang menarik untuk diceritakan, cerita dewasa kampung, ketika semua rampung sekitar pukul dua siang kami berdua kembali ke rumah Aminah. Nonton Bokep.


Kusuruh lilis untuk telentang tepat dibawah article source kokom, sambil membuka mulutnya dengan lebar, setelah itu kukorek-korek lubang anus kokom, lalu kutarik, surrrrr. Next video. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul cerita dewasa kampung Dia mungkin sudah setengah tidur. Sepeninggalan kokom, lilis mendekati aku, seraya dengan setengah berbisik berkata. Sekembalinya Aminah bergabung dengan kami pak Cecep tanpa basa basi menanyakan cerita dewasa kampung Aminah mengenai teman tidur yang bisa disediakan malam ini.


Kupompa batang kontolku maju mundur brroott…. Beberapa menit kemudian kucabut batang kontolku dari memeknya, kusuruh kokom untuk duduk dibibir bak mandi, lalu kubentangkan kedua kakinya sehingga lubang memeknya yg sudah licin berair tampak menganga, dengan tak sabar kubimbing batang kontolku memasui memeknya dan bless…dengan mudah kontolku masuk, dipeluknya tubuhku dengan erat, sementara kedua kakinya mengapit melingkar dipinggulku. Segera kupacu pantatku maju mundur, kontolku dengan mantap keluar masuk dilubang memeknya.

Semakin erat kokom memeluk punggungku, begitupun kakinya yg menjapit dipinggulku, kurasakan begitu kuat, sehingga sedikit mengganggu keleluasaan dalam memompa pantatku, namun itu bukanlah masalah. Hingga beberapa saat kemudian, tubuh kokom mengejang, pelukan dan jepitan kakinya ditubuhku semakin kencang, nafasnyapun memburu, hangat kurasakan hembusannya, kokom mencapai klimaks namun kali ini tanpa diikuti dengan teriakannya yg panjang karna mulutnya kusumbat dengan pagutan mulutku, hanya lenguhan tertahan yg terdengar, dicengkramnya punggungku, hingga agak perih kurasakan.

Dan akhirnya beberapa detik kemudian cengkraman dan jepitan kakinya mulai mengendor,hingga dilepasnya sama sekali, hanya senyumnya kini yg tersisa, tersenyum padaku. Terlepasnya jepitan kaki kokom pada pinggulku, membuat gerakanku untuk memompakan pantatku semakin leluasa, kuhantamkannya pantatku maju mundur dengan sekuat tenaga, hingga tubuh kokom ikut bergoyang-goyang mengikuti irama kocokanku. Dan akhirnya aku mengerang panjang pertanda telah sampai diriku pada puncak kenikmatan.

Kukecup bibir kokom, dan kucabut batang kontolku dari dalam memeknya, kulihat cairan putih kental mengintip disela-sela lubang memek kokom yg ternyata adalah air maniku. Kokom yg masih duduk dibibir bak mandi, mengangkat sedikit kedua kakinya sehingga lubang memeknya tampak menganga, dimasukannya jari tengah dan telunjuknya kedalam memeknya, dikorek-koreknya beberapa saat, lalu dikeluarkannya kembali, kali ini kedua jarinya itu telah terbaluri oleh air maniku yg kusemprotkan tadi.

Tampak begitu erotis bagiku apa yg dilakukan kokom itu, sehingga menginsfirasi bagiku untuk melakukan hal yg serupa, walaupun mungkin terlalu ekstrim.

Lalu kokom menyibakan memeknya dengan kedua tangannya, berkonsentrasi sejenak, dan surrrrrrr…. Mancurlah air kencingnya yg berwarna agak kekuningan, kutampung air kencing kokom didalam mulutku dan kuminum, namun begitu banyak air kencingnya yg memancur sehingga belum habis aku menelannya sudah penuh terlebih dulu air kencing itu dimulutku, sehingga sebagian bertumpahan kesekujur tubuhku dan kelantai kamar mandi, beberapa pancurannya mengenai wajah dan rambutku, hingga basahlah sekujur tubuhku oleh air kencingnya.

Sebuah sensasi yg gila memang, tapi entah mengapa aku begitu menyukainya, dan akhirnya berhentilah pancuran air kencing yg keluar dari memeknya, puas rasanya diri ini, sampai beberapa kali aku bersendawa. Kuarahkan ujung kontolku tepat diatas mulutnya yg menganga, dan serrrrrrr… keluarlah air kencingku masuk kedalam mulutnya, tampak lehernya bergerak-gerak pertanda sedang menelan air kencingku, sebagian tumpah mengenai buah dadanya, ada beberapa semprotan yg sengaja kuarahkan kewajah dan rambutnya.

Cukup banyak juga air kencingku yg diminum kokom, sebagian dibuatnya untuk membasuh wajahnya, dengan kedua tangannya digosok-gosoknya wajahnya menggunakan air kencingku, juga rambutnya seolah-olah seperti orang yg sedang keramas. Akhirnya berhentilah aliran air kencingku. Kubimbing tangan kokom untuk berdiri, kukecup bibirnya yg beraroma pesing air kencingku, kami berkecupan dengan mesra. Akhirnya kami mandi bersama, aku dimandikan kokom, dan setelah itu bergantian aku yg memandikannya, diselingi dengan tawa dan canda.

Selesai mandi kami keluar kamar mandi bersama beriringan, kokom hanya mengenakan handuk yg dililitkan ditubuhnya, sedangkan aku bertelanjang dada hanya mengenakan celana pendek, saat melintas ruang tengah kulihat lilis dan pak engkos berada disana sedang menonton tv. Nonton Bokep. Abah mau mandi jadi kelamaan nunggu tuh..

Sore itu aku dan lilis berjalan-jalan disekitar desa, sambil menikmati indahnya senja di persawahan yg tak jauh dari rumah lilis. Setelah lelah kami berjalan, kami duduk direrumputan dipinggir sawah, tampak begitu indah kulihat pemandangan persawahan dari sini, terutama pada senja itu, dengan matahari yg hanya tinggal beberapa saat lagi tenggelam dibalik gunung salak yg menjadi latar belakang persawahan itu, dengan cahayanya yg merah keemasan menyinari air sungai yg melingkar ditepi persawahan, air sungai tampak berkilat bagaikan emas, serasi dengan pohon-pohon kelapa yg tumbuh dipinggirnya yg menambah keindahan senja itu, suatu lukisan alam dengan komposisinya yg begitu sempurna.

Tak kurelakan momen yg indah itu untuk berlalu begitu saja dari hadapanku, seraya kukeluarkan ponselku, dan kuabadikan dengan kamera photonya, namun hasilnya tak seperti yg kuinginkan, ternyata hasil photo dari kamera ponsel memang kurang memuaskan, semestinya aku membawa kamera DSLR yg kutinggal dirumah, dengan kamera itu aku dapat mengatur diaprahgma,shutter speed,ISO, dan beberapa pengaturan yg lainnya, sehingga bisa menghasilkan gambar sesuai dengan keinginanku, terutama efek siluet yg kuinginkan untuk momen sunset seperti ini.

Sepanjang perjalanan yg menyusuri pematang sawah sesekali kami menjumpai petani yg baru pulang bekerja dengan senyumnya yg ramah kepada kami, berhenti beberapa saat untuk kemudian berbincang-bincang dengan lilis dengan menggunakan bahasa daerah yg tak sepenuhnya kumengerti, untuk kemudian kami lanjutkan lagi perjalanan pulang. Hari mulai sedikit gelap, dilangit kulihat burung-burung mulai pulang kesarangnya, seolah melakukan pergantian shift dengan kelelawar yg justru baru keluar dari sarang mereka setelah tidur sepanjang siang hari.

Lapat-lapat terdengar suara azan mahgrib dari desa sebelah, ya, dari masjid atau surau didesa sebelah, bukan dari desa ini, karna didesa X ini memang tak ada satupun masjid atau surau,. Bukan sekali dua beberapa tokoh agama berusaha untuk mengubah pola hidup mereka, baik dengan pendekatan yg halus atau radikal, namun sama sekali tak membawa hasil, mereka tak bisa merubah apapun dari desa itu, desa X tetap berjalan dengan iramanya sendiri, irama yg menurut mereka benar, mereka menjalankan hidup mereka sesuai dengan hati dan rasa mereka, yg berpedoman dengan tidak merugikan diri sendiri, diri orang lain, dan juga alam, itulah irama yg mereka jalankan, irama yg sederhana sebenarnya.

Dengan pola pemikiran dikehidupan mereka yg seperti itu, walaupun tidak tertulis, namun mereka menjalaninya dengan konsisten, dan itu telah ter mind-set dalam pikiran mereka semenjak mereka lahir. Dengan demikian praktis memang didesa itu tak pernah terjadi pencurian, perkelahian, apalagi tawuran antar warga, karna berpulang dari prinsip mereka itu tadi, yaitu tidak ingin melakukan tindakan yg merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain, tidak juga merugikan alam.

Hal itu memang kurasakan tadi saat jalan berkeliling desa dengan lilis, disitu kurasakan betapa masyarakatnya begitu ramah, senyum dan tegur sapa selalu kutemukan dari wajah-wajah mereka, dan mereka saling menghargai satu sama lain. Akhirnya kami sampai dirumah, makan malam telah tersedia dibalai-balai bambu, tak jauh berbeda menunya dengan siang tadi, menu yg menggoda selera, dan seperti tadi siang pula dua piring nasi kandas didalam perutku.

Selaesai makan kami duduk bersantai diruang tengah sambil menonton tv, lilis berbaring dilantai yg beralaskan tikar pandan, sedang pak engkos duduk dikursi sambil tak henti-hentinya merokok, bagaikan asap cerobong kereta api yg senantiasa mengepul tak putus-putus, kulihat asbak dimeja disampingnya hampir penuh oleh puntung rokok keretek.

Sementara aku duduk dikursi panjang semacam sofa, hanya tak layak untuk disebut sofa karna hanya terbuat dari kayu dan tanpa plitur, juga tak ada busa sebagai pelapisnya, dan kokom entah kemana, mungkin sedang sibuk mencuci piring sisa makan malam kami. Beberapa menit kemudian kokom muncul dengan dua gelas berisikan kopi panas, satu untuk pak engkos suaminya itu, dan yg satu untuk ku. Untuk beberapa saat kami cukup serius menyaksikan tayangan sepakbola piala AFF antara kesebelasan Indonesia melawan Laos, hingga keseriusan kami terhenti sejenak setelah dibunyikannya pluit oleh sang wasit pertanda babak pertama telah usai, untuk sementara kesebelasan kesayangan kita unggul Tak enak hati juga aku, karna pak engkos masih ada disitu, aku hanya senyum-senyum saja, canggung dengan pak engkos.

Sepeninggalan pak engkos aku menjadi lebih leluasa, kukecup bibir kokom yg masih asik memijit-mijit batang kontolku yg masih terbungkus celana pendek, koni kokom menarik celana pendekku dan mencampakkannya dilantai sehingga batang kontolku menyembul keluar setengah tegak, kokom turun dari kursi disampingku, kini dia berjongkok dengan wajahnya menghadap keselangkanganku, digenggamnya batang kontolku, dijilatinya dengan lembut sekujur kontolku mulai dari lubang pipisku, sampai kebiji pelirku, nikmat kurasakan hingga aku mendesah, tak kuhiraukan ocehan-ocehan lilis yg terus menggoda kami.

Kini kokom mulai mengulum batang kontolku, kepalanya bergerak maju mundur dengan berirama, sementara tangan kanannya digunakan untuk menggenggam pangkal batang kontolku, tangan kirinya digunakan untuk meremas-remas kantong pelirku.

Tampaknya lilis tak tahan melihat aksi kami, dilucutinya seluruh pakaiannya hingga kini lilis benar-benar bugil, lilis naik dan berdiri diatas kursi yg aku duduki, dikangkanginya wajahku, sehingga memeknya tepat berada diwajahku, sementara kedua tangannya bertumpu pada dinding kayu yg berada tepat dibelakang kursi,. Tampaknya birahi lilis semakin tinggi ditandai dengan memeknya yg mulai basah, asin-asin gurih kurasa cairan pelumas yg mulai membaluri memeknya.

Kini lilis menggosok-gosokan dan menekan-nekan memeknya dengan kasar kewajahku, sampai-sampai belakang kepalaku terbentur-bentur dinding kayu dibelakang kursi. Beberapa saat kemudian lilis turun dari kursi, kini lilis memposisikan dirinya menungging dilantai yg beralaskan tikar pandan. Kupompakan pantatku maju mundur mendobrak pertahanan lilis, begitu juga dengan pertandingan sepakbola ditv pemain-pemain Indonesia mulai menggebrak pertahanan laos dengan gencar.

Mendengar jawabanku lilis tampak begitu senang, sambil memekik kegirangan digoyang-goyangkannya tubuhnya seolah seperti menari.

Kini lilis kembali denganposisi menungging, kujilati sebentar lubang anusnya, kuludahi beberapa kali, kuraih kepala kokom agar dia mengoral kontolku, dioralnya batang kontolku oleh kokom, setelah itu kusuruh kokom untuk membaluri batang kontolku dengan air ludahnya, setelah kurasa cukup banyak air ludah membaluri kontolku dan kupikir itu cukup sebagai pelumas didalam lubang anus lilis nanti.

Kuarahkan batang kontolku tepat kelubang anus lilis, dan bless.. Mulailah kudorong lebih kedalam batang kontolku hingga tandas seluruh batang kontolku memasuki lubang anusnya, lilis masih merintih, lalu mulai kupompakan maju mundur, namun tak terlalu cepat, aku paham anus lilis belum familier dengan gesekan-gesekan.

Hingga beberapa saat kemudian kulihat lilis mulai enjoy, kini lilis mulai dapat menikmati penetrasi dari lubang anusnya, itu ditandakan dengan senyum yg mulai menghiasi wajahnya, yg sebelumnya merintih kesakitan kini berganti dengan merintih nikmat.

Sementara kokom yg sebelumnya hanya bengong menyaksikan aksi sodomiku dengan lilis, kini dia mendekatiku dan berkata setengah berbisik ditelingaku. Kini kokom bangkit berdiri, dia berdiri mengangkangi lilis yg menungging, posisinya membelakangiku, sehingga pantatnya tepat berada dihadapanku, seraya disibaknya lubang anusnya dengan kedua tangannya, sehingga memperlihatkan lubang anusnya yg menganga dengan warna agak kemerahan, begitu bernafsu aku melihatnya.

Segera dengan rakus kijilati lubang anusnya yg menganga, nikmat kurasakan, sebuah sensasi yg luar biasa, batang kontolku menyodomi anus lilis, sementara mulutku menikmati anus ibunya, wuiihh.. Sementara lilis semakin liar, lilis yg untuk pertama kalinya melakukan sodomi rupanya dia merasa mendapatkan kenikmatan tersendiri yg tidak dirasakan saat penetrasi dengan lubang memeknya. Semakin bersemangat aku memompakan kontolku menghujami anus lilis, yg sebelumnya aku memompakannya hanya dengan pelan, kini telah dengan kecepatan penuh, hingga tubuh lilis ikut terguncang-guncang.

Sementara makin rakus aku menjilati lubang anus mamih, sesekali kusedot anus itu, atau kubenamkan wajahku kedalamnya, sehingga wajahku menyusup masuk kedalam belahan bokongnya yg besar dan montok itu. Hingga beberapa menit kemudian tubuh lilis tampak mulai mengejang, semakin sepat lubang memeknya dikocok-kocok dengan jari-jarinya, rupanya lilis telah sampai pada puncak birahinya. Melihat lilis yg sudah tak berdaya, kokom segera menjauhkan lubang anusnya dari wajahku, seraya dia menungging disamping lilis.

Kucabut batang kontolku dari anus lilis, dan kuhampiri kokom yg menungging, pantatnya yg montok tampak lebih besar dan bulat dalam posisi menungging seperti itu, kujilati sejenak, kuludahi beberapa kali seperti yg tadi kulakukan pada lilis, setelah cukup kutancapkan kontolku pada lubang anusnya, seperti juga lilis, untuk pertama kalinya kokom merintih sakit, namun tak sampai satu menit, rintihan kokom berubah menjadi rintihan nikmat.

Kini tangan kananku kugunakan untuk mengobel-ngobel lubang memek kokom, sambil terus aku memompakan pantatku maju mundur, kokom tampak semakin blingsatan, basah kurasakan tanganku oleh cairan memeknya, semakin cepat kukobel-kobel jari tengah dan jari telunjukku yg sekaligus masuk dalam lubang memeknya.

Beberapa menit kemudian kokom mencapai puncak kenikmatan , disertai dengan pekikan yg cukup keras, begitu banyak kurasakan cairan yg membasahi memeknya sehingga saat tanganku mengobel-ngobel memeknya berbunyi clok.. Hanya selang beberapa detik, tubuhku mulai mengejang, kocokan batang kontolku dilubang pantat mamih semakin kencang, dan crottt.. Tiba-tiba lilis sudah berada disampingku, ditariknya batang kontolku yg masih menancap didalam lubang anus kokom, lalu dikulumnya dengan rakus, sepermaku yg melekat pada batang kontolku ditelannya, lalu dikocok-kocoknya batang kontolku dengan harapan masih keluar satu atau dua tetes air mani, namun setelah dirasakannya tidak ada setetespun spermaku yg keluar, tampak terlihat raut wajahnya yg kecewa, lalu terdiam sejenak, kemudian tersenyum, entah apa arti senyumnya itu, seolah-olah lilis mendapatkan suatu yg cemerlang.

Ternyata lilis mendekati lubang anus ibunya yg masih dalam posisi menungging, dari sikapnya itu aku mulai mengerti dengan apa yg akan dia lakukan.

Kusuruh lilis untuk telentang tepat dibawah pantat kokom, sambil membuka mulutnya dengan lebar, setelah itu kukorek-korek lubang anus kokom, lalu kutarik, surrrrr.. Tiba-tiba kokom menggulung tikar pandan yg tergelar dilantai, mungkin maksudnya agr tikar itu jangan sampai basah terkena air kencing. Aku berdiri menghadap kokom, kuarahkan batang kontolku sekitar 50cm dari mulut kokom yg menganga, memang sengaja untuk tidak terlalu dekat dengan maksud agar terlihat pancurannya, itu akan lebih sensasional pikirku, kulirik lilis yg masih melongo, dan..

Sisa air kencingku yg masih tertampung didalam mulut kokom kali ini tidak ditelannya, seraya kokom berdiri dan membungkukan badannya sehingga wajahnya tepat berada diatas wajah lilis yg duduk sambil menganga, dimuntahkannya air kencingku dari mulut kokom kedalam mulut lilis, lilis langsung menelannya dengan rakus, sepertinya lilis belum puas, diraih kepala ibunya itu dan dikecupnya dengan rakus, sehingga mereka saling berpagutan, betul-betul aku disuguhi aksi yg erotis oleh ibu dan anak ini.

Aku duduk dilantai sambil membuka mulutku lebar-lebar, siap menantikan cairan yg menurutku begitu menyegarkan mengalir masuk kemulutku dan tentunya akan kuhirup dan kuminum sepuasnya. Kokom dan lilis bersiap dengan aksinya mereka berdiri tepat didepanku dengan memek yg menganga siap untuk mengeluarkan air seninya, disibakannya memek mereka dengan kedua tangannya, dan..

Terasa kembung perutku meminum begitu banyak air kencing dari kokom dan lilis, hingga sebagian tumpah kelantai dan sebagian lagi kugunakan untuk membasuh wajahku. Akhirnya berhentilah aliran air kencing dari keduanya, namun dimulutku masih tertampung penuh air kencing mereka, aku berdiri dan kudekati lilis, kubuka mulutnya dengan tanganku, dia mengerti maksudku hingga dibukanya mulutnya leber-lebar dan kumuntahkan isi dari mulutku kedalam mulutnya yg dengan rakus langsung ditelannya.

Bersamaan dengan itu dari televisi terdengar wasit telah meniup peluit panjang bertanda selesai pertandingan antara kesebelasan Indonesia vs Laos, Indonesia menang telak Begitupun dengan permainan kami yg telah selesai untuk malam itu, akhirnya kamipun mandi bersama untuk membersihkan tubuh kami yg sudah berbau sedemikian rupa, bau keringat bercampur dengan bau air kencing.

Keesokan sorenya aku balik kejakarta, setelah pagi dan siang harinya aku masih menikmati pesta seks dengan lilis dan kokom tentunya, kuberikan lilis uang sebesar ribu, seperti yg dikatakan herman, begitupun kokom kuberikan dengan jumlah yg sama, pak engkos sebagai suami kokom yg telah merelakan istrinya kunikmati selama sehari semalam kuberikan dia 50ribu sekedar untuk beli rokok. Hartop tua herman telah terparkir dihalaman rumah itu, lilis dan kokom mengantar kepergianku sampai aku memasuki mobil herman.

Akhirnya mobil herman meluncur menuju Jakarta, dari kaca spion masih kulihat lilis dan kokom melambaikan tangan. Malam mulai menyelimuti desa X, kepergianku meninggalkan desa yg unik itu diiringi oleh nyanyian jangkrik dengan iramanya yg khas, yg selalu konsisten mereka nyanyikan disetiap malam hari tanpa pernah merubah arasemennya sedikitpun, seperti halnya dengan irama kehidupan didesa X itu, yg tetap berjalan dengan iramanya sendiri, yg tetap mereka mainkan secara konsisten, tak pernah berubah walau oleh pengaruh apapun.

You are commenting using your WordPress. You are commenting using your Twitter account. You are commenting using your Facebook account. Notify me of new comments via email.

Notify me of new posts via email. Search for: Search. Sebelumnya sejak perjalanan dari Jakarta aku membayangkan bahwa wanita-wanita yg ada didesa ini paling-paling berkulit agak hitam, busik, dan mata kaki agak bersisik, khas tipikal penduduk desa yg pernah aku kunjungi dulu waktu aku kemping didaerah pedalaman jawa barat saat masih SMA, tapi aku berpikir, ah, enggak apa-apa lah, yg pentingkan barangnya masih orisinil dan masih belum banyak dimasuki oleh batang-batang kontol, itu pertimbanganku sebelumnya, namun kenyataan yg aku dapati disini sungguh diluar dugaanku, bahkan kulitnya jauh lebih bersih dan lembut dari pelacur-pelacur Jakarta yg sering aku ajak kencan, bahkan kalau aku membanding-bandingkan tidak kalah juga dengan artis-artis ibu kota, kecuali telapak tangannya.

Dengan tubuh yg berkilat oleh keringat dan rambut yg mulai basah serta nafas yg memburu, bagiku lilis terlihat begitu eksotis, tampak lebih menarik dia, hingga mengantarkan diriku semakin mendekati pada puncak kenikmatan, pantatku mulai kunaikan keatas mengimbangi kocokan lilis, dan akhirnya sampai juga klimaks yg pertama kurasakan bersamaan dengan lenguhan panjang yg keluar dari mulutku, kudekap tubuh lilis dengan kuat, hingga tubuhnya kini telungkup diatasku, kukecup dengan rakus bibirnya, kini pantat lilis tidak lagi bergerak maju mundur, berganti pantatku yg kali ini yg turun naik menghantamkan batang kontolku didalam memek lilis, cukup banyak kurasakan semprotan sepermaku didalam rahim lilis, hingga beberapa detik kemudian aku terdiam terkapar pertanda tuntas sudah hajatku untuk yg pertama dengan lilis.

Aku dan bibiku sangat akrab karena dia memang sering main kerumahku sewaktu belum berkeluarga dan waktu kecil sering tidur di kamarku bahkan waktu kuliah dia lebih banyak tidur dirumahku dari pada ditempat kostnya. Anaknya masih kecil berumur sekitar 1 tahun. Kakekku pulang dari jalan paginya dan asik berbincang dengan temannya diruang tamu.

Di belakang rumah ada jalan kecil yang tembus ke sungai di pinggir kampung sungai itu dulu sangat ramai oleh penduduk yang mandi atau mencuci tapi sekarang sudah jarang yang memakai, hanya sesekali mereka mandi disungai.

Selendang batik itu membentuk lekuk tubuhnya dibagian depan terlihat dengan jelas sembulan dua buah dada yang sangat besar, sedang ditengah leher putihya terdapat sebuah kalung tipis yang membuat dirinya terlihat ramping, ia kemudian membelakangi kami dan melepas selendang itu kemudian mengusapkan handuk ke sekujur tubuhnya. Kontan saja aku kaget melihat pemandangan itu, walaupun membelakangiku tapi aku dengan jelas dapat melihat seluruh tubuh putihnya itu tanpa sehelai benangpun, bokongnya yang berisi telihat jelas setelah dia mengusap tubuhnya kini ia mulai membasuh rambutnya yang panjang sehingga seluruh tubunya bisa kulihat, ketika aku membasahi cucian kemudian duduk.

Akhirnya aku bisa meraih ember itu, ia berusaha melepaskan dari dekapanku tapi sia sia aku sudah siap, ku ambil air dan meletakkanya diatas kepalanyaa. Wajahnya tampak cemberut di usapkannya handuk ke muka dan rambutnya kemudian mulai turun ke dua buah dadanya kemudian turun ke perutnya yang kecil kemudian turun ke selangkangannya kemudian dia merunduk dan menyeka kakinya, kemudian melemparkan handuknya yang basah ke mukaku, aku kemudian menggunakan handuknya itu untuk mengusap muka lumayan aroma tubuhnya masih nempel nih aku kemudian mengembalikan padanya.

Di ikatkannya handuk itu di pinggang kemudian duduk tepat di depanku dan di turunkannya celana dalamnya, karena ikatannya kurang kuat setelah celana dalamnya berhasil melewati kaki indahnya handuk itupun ikut terbuka sehingga isi selangkanganya terpampang di depanku. Aku kemudian memandang kembali kearahnya nampaknya dia merasa nyaman saja mengetahui memeknya dilihat aku, diusapkannya ke arah rambut-rambut pubis tipisnya kemudian ia mengusap bibir-bibir coklatnya bawahnya yang masih kencang sambil tersenyum sendiri.

Tanganku mengambil tangan yang menutupinya. Aku kaget dan membuka handuk sambil mencari bibiku takut ketahuan, kepala bibiku tampak masih ada dibelakang batu besar disamping sungai itu lagi asik membuang hajat.. Kemudian ku buka mulut dan mulai mengeluarkan lidah, wulan nampak melihat kesekeliling kemudian aku mulai menjilat dengan pelan ke paha kanan kemudian kiri dan akhirnya menjilati memeknya ia tampak mengerang geli,.

Setelah kurang lebih 5 detik ku tarik mukaku. Kami kemudian asyik mencuci sambil ngobrol seru-seruan, bibi mencuci sedang aku membilasnya, sesekali kami saling menyiramkan air sehingga baju kami basah semua akhirnya baju yang kami selesai semua aku mulai membuka semua bajuku sehingga hanya menyisakan celana kolorku saja, sementara bibiku yang dari tadi berhadapan denganku menggeser duduknya menyamping, kemudian menaikkan dasternya kemudian celana dalam putih pelan pelan turun dari pahanya mulus bibiku kemudian dia menghadap kembali padaku dengan posisi kaki lebih rapat, tidak seperti tadi dimana kadang aku bisa melihat celana dalamnya.

Masih baru nih.. Mbokku mewarisi ibunya berbadan langsing. Meski kedua mereka sudah memasuki usia tua menurut ukuran kampung, tetapi tubuh bereka tidak bergelambir lemak, alias singset.

Wajah mereka biasa-biasa saja tidak terlalu cantik, tetapi juga tidak jelek. Biasa saja lah orang kampung, Cuma wajahnya bersih dari noda bekas jerawat. Sepengetahuanku mereka tidak terlalu repot menjaga tubuh dan wajah, karena makan hanya seadanya dan mandi juga biasa tidak pernah dilulur dan sebagainya.

Baik mak maupun mbah, tumit kakinya kecil dan betisnya langsing. Ini menjadi perhatianku setelah aku dewasa dan mengenal ciri-ciri wanita yang pandai memuaskan suami. Agak melenceng sedikit. Kebiasaan di desa kami adalah setiap rumah mempunyai kamar mandi yang disebut sumur berada di luar rumah dan umumnya agak jauh di belakang rumah. Tidak jauh dari sumur terdapat tempat buang hajat besar. Sumur dan wc nayris tidak berdinding penghalang.

Yang ada hanya bangunan lubang sumur yang bibirnya ditinggikan sekitar 1 meter, lalu tonggak-tonggak kayu untuk menggantung baju dan handuk. Di sekitar sumur dan wc ditumbuhi oleh tanaman rumpun sereh dan tanaman semak yang rimbun sehingga agak terlindung.